Pages

Selasa, 12 Januari 2021

Laporan Praktikum Meteorologi dan Klimatologi

 



1.      Latar Belakang Penelitian

Geografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bumi, baik di atas maupun di bawah permukaan. Meteorologi dan Klimatologi merupakan kajian geografi yang mempelajari fenomena-fenomena di atas permukaan bumi, misalnya : hujan, angin, kelembaban udara, cuaca, iklim, tekanan udara, atmosfer, dll.

Dalam pembuatan laporan ini didasarkan pada hasil Field Study yang telah dilaksanakan pada hari minggu tanggal, 18 Desember 2005 di Stasiun Meteorologi dan Klimatologi. Stasiun Meteorologi dan Klimatologi tersebut  berlokasi tepatnya di desa Sukosari, Kec. Jumantono, Kab. Karanganyar, Propinsi  Jawa Tengah.

Dalam laporan Field Study ini akan  membahas rangkaian bagian-bagian alat yang ada di stasiun Meteorologi dan Klimatologi, seperti : umbrometer, anemometer, sunset recorder, termohidrograf, panci evaporasi, dan alat pengukur arah mata angin / Wind Derection. Pembahasan laporan tersebut akan meliputi kegunaan atau fungsi, letak, kondisi topografi, tinggi tempat, dan berserta data foto yang telah diambil di lapangan dari masing-masing alat-alat yang ada di sana.  Pada laporan ini selain membahas tentang alat-alat yang ada di sana juga mengkaji tentang kegunaan dari laboratorium Klimatologi.  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.      Perumusan Masalah

Dari pembahasan latar belakang masalah penelitian di atas dapat ditarik beberapa permasalahan sebagai berikut :

a.       Apa nama dari masing-masing alat yang terdapat di stasiun Meteorologi dan Klimatologi ?

b.      Bagaimana sistem kerja dari masing-masing alat yang terdapat di stasiun Meteorologi dan Klimatologi ?

c.       Apa manfaat atau kegunaan  dari masing-masing alat yang terdapat di stasiun Meteorologi dan Klimatologi ?

3.      Tujuan Penelitian

Adanya dua rumusan masalah tersebut maka tujuan penulisan laporan Field Study Meteorologi dan Klimatologi adalah :

a.       Dapat mengetahui nama dari masing-masing alat yang terdapat di stasiun Meteorologi dan Klimatologi.

b.      Dapat mengetahui sistem kerja dari masing-masing alat yang terdapat di stasiun Meteorologi dan Klimatologi.

c.       Dapat mengetahui manfaat atau kegunaan  dari masing-masing alat yang terdapat di stasiun Meteorologi dan Klimatologi.

4.      Manfaat Penelitian

a.       Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengalaman tentang stasiun Meteorologi dan Klimatologi dari segi letak, kondisi alam, dan macam-macam alat yang ada di sana. Sehingga  dapat memberi suasana baru di lingkungan Geografi.

b.      Manfaat Praktis

Secara praktis penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk mengetahui kegunaan atau fungsi dari masing-masing alat yang terdapat di stasiun Meteorologi dan Klimatologi  yang terletak tepatnya di desa Sukosari, Kec. Jumantono, Kab. Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah.

 

 

Bab II

Tinjauan Pustaka

 

Meteorologi dan Klimatologi merupakan bagian dari ilmu geografi. Meteorologi adalah ilmu yang mempelajari tentang cuaca. Sedangkan Klimatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang iklim. Cuaca adalah suatu perubahan kondisi atau keadaan udara di suatu wilayah yang sempit dan dalam waktu yang relatif singkat. Iklim adalah suatu perubahan kondisi atau keadaan udara di suatu wilayah yang luas dan dalam waktu yang relatif lama / panjang. Jadi cukup jelas perbedaan antara cuaca dan iklim yaitu : cuaca wilayah cakupannya sempit dan waktunya singkat, sedangkan iklim berbanding terbalik ( cakupannya luas dan waktunya  lama / panjang ).

            Ilmu kajian yang dibahas dalam Meteorologi dan Klimatologi, antara lain : Atmosfer ( lapisan udara yang menyelimuti bumi ), Angin ( aliran udara ), Kelembaban udara ( keadaan uap air di udara ), Tekanan udara, dan Presipitasi.

            Dalam laporan hasil Field Study ini sangat berhubungan dengan Presipitasi. Presipitasi adalah nama umum dari uap air yang mengkondensasi atau mengembun dan jatuh kepermukaan tanah dalam rangkaian siklus hidrologi. Klasifikasi hujan berdasarkan proses terjadinya dibagi menjadi 3 macam, yaitu :

·         Hujan Konveksi

Adalah Hujan yang terjadi karena adanya pembumbungan  masa udara secara  menegak ( terjadi pada awan cumulonimbus dan nimbostratus, serta hanya terjadi di lintang katulistiwa )

 

·         Hujan Orografis

Adalah Hujan yang terjadi dari awan yang terbentuk dalam angin yang melewati pegunungan ( hujannya sangat lebat )

 

·         Hujan Frontal

Adalah Hujan yang terjadi karena adanya pertemuan antara masa udara panas dan dingin (terjadi di lintang tengah dan hujannya tidak lebat)

Mikroklimatologi itu suatu cabang dari klimatologi yang mempelajari iklim dari daerah yang amat terbatas dan sempit, karena berhubungan dengan tanaman. Datanya diambil dari udara setinggi 1,5 m di atas permukaan tanah. Ilmu mikro dapat diartikan iklim dari lapian-lapisan udara terendah terendah akan tetapi dapat juga diartikan iklim dari wilayah sempit suatu hutan, kota, desa, rawa dan sebagainya. Bioklimatologi juga merupakan cabang klimatologi. Ini mempelajari arti iklim bagi berbagai kemungkinan kehidupan makhluk, terutama yang menyangkut reaksi manusia terhadap iklim di sekitarnya. Selanjutnya bioklimatologi dapat diperinci pula berdasarkan pemusiman untuk jangka sepanjang tahun (Daldjoeni,1986)

Teori tentang perputaran atmosfer selalu saja mengalami pembaharuan. Pengkajian tentang peramalan jangka panjang dan perubahan iklim, seperti halnya perubahan-perubahan cuaca harian menyebabkan makin meningkatnya penggunaan informasi sifat-sifat fisika, kimia dan kelistrikan atmosfer bagian atas. Peramalan cuaca yang semula selalu melihat kembali pengamatan permukaaan (surface observation) setengah abad yang lalu, sekarang berdasar pada atmosfer tiga dimensi. Penelitian cuaca dan iklim sekarang ini telah meluas meliputi di satu pihak penelitian keadaan atmosfer pada lapisan yang tinggi dan di satu pihak pengkajian yang terperinci / teliti lapisan udara yang sangat tipis dekat permukaan tanah, air atau tanaman. Disinilah ilmu klimatologi dan meteorologi sampai pada tingkat perkembanganyang ditandai dengan tumbuhnya penggunaan praktis atas penemuan dan tekniknya dalam aktivitas manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab III

Metode Penelitian

 

1.      Tempat Penelitian

Berdasarkan pada permasalahan yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu, penelitian ini dilaksanakan di desa Sukosari, Kec. Jumantono, Kab. Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah.

 

2.      Waktu Penelitian

Penelitian untuk MKK Meteorologi dan Klimatologi dilaksanakan  pada tanggal 18 Desember 2005.

 

3.      Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel dilakukan melalui penjelasan Bapak Sutarno dari fakultas pertanian dan pengambilan objek gambar dengan mengunakan kamera.

 4.      Jenis Data

Dalam penelitian ini diperlukan dua data yaitu data sekunder yang diperoleh dari hasil penelitian dan litelatur yang berkaitan sedangkan data primer diperoleh dari penjelasan Bapak Sutarno, yaitu salah satu dosen fakultas pertanian yang ikut serta dalam memberikan keterangan dari masing-masing alat.

 Alat – Alat yang Terdapat di Stasiun Meteorologi dan Klimatologi

 

U

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 1

Denah Alat – Alat yang Terdapat di Stasiun Meteorologi dan Klimatologi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.      Kegunaan Labolatorium Klimatologi

Ada beberapa kegunaan labolatorium Klimatologi di desa Sukosari, Kec. Jumantono, Kab. Karanganyar, yaitu antara lain :

a.       Digunakan untuk praktikum profil tanah.

b.      Digunakan untuk dasar-dasar agronomi.

c.       Digunakan untuk penelitian agronomi.

d.      Digunakan untuk praktikum kesuburan tanah.

 

2.      Kondisi Topografi dan Tinggi Tempat

a.       Tinggi tempat 180 meter di atas permukaan air laut.

b.      Letak astronomis  : 7 o LS dan 110o BT.

c.       Keadaan tanah dan air tanah, meliputi : Jenis tanahnya yaitu latosol dengan pH 6,1 dan tinggi air tanah berkisar antara 15 – 20 meter.

d.      Tumbuhan atau tanaman yang ada, yaitu : tanaman yang cocok pada lahan kering, misalnya palawija.

e.       Halangan pada sekitar lokasi.

Bangunan / gedung, keamanan alat-alat, pohon-pohon, dan tanaman yang ada di sekitarnya harus diperhatikan dari segi pembangunan, peletakan, maupun penanaman. Mengapa semua itu harus diperhatikan disebabkan karena ada beberapa jenis alat yang harus terlindungi dari faktor sampingan seperti yang telah disebutkan, misalnya : Umbrometer dan termohidrograf harus diletakan dalam sangkar cuaca karena alat tersebut harus bebas dari pengaruh langsung pemantulan panas oleh penyinaran matahari guna memenuhi persyaratan kinerjanya. Tetapi juga ada alat yang malah harus langsung kena radiasi bumi, seperti : Sunshine Recorder, Panci Evaporasi harus bebas menampung curahan hujan, dll.

f.       Tata air tanahnya kurang baik sehingga di sekitar daerah stasiun Meteorologi dan Klimatologi  tidak ada sarana prasana irigasi untuk bidang pertanian.

g.      Awan mempunyai pengaruh yang besar terhadap terjadinya cuaca.

3.      Cara Kerja Pesawat Cuaca

Pesawat cuaca atau juga disebut alat-alat Meteorologi dapat bekerja secara alami, artinya dapat mengukur gejala-gejala cuaca jika alat-alat tersebut digunakan secara tepat. Adapun faktor yang mempengaruhi kinerja alat-alat Meteorologi tersebut, antara lain : Dari faktor alam itu sendiri misalnya terjadi hujan, angin, dan fenomena-fenaomena alam lainnya, Faktor bentuk dan wujud benda ( padat, cair, gas ), dan yang ketiga faktor manusia yang mengamati gejala kinerja alat / pesawat Meteorologi ini.

Alat itu ada yang langsung ditempatkan di lapangan terbuka dan ada juga yang harus terlindungi dari pengaruh sampingan, seperti :  Bangunan (gedung), keamanan alat-alat, pohon-pohon, dan tanaman yang ada di sekitarnya yang bertujuan memenuhi persyaratan kinerja dari masing-masing alat-alat tersebut. Mengapa semua itu harus diperhatikan disebabkan karena ada beberapa jenis alat yang harus terlindungi dari faktor sampingan seperti yang telah disebutkan, misalnya : Umbrometer dan termohidrograf harus diletakan dalam sangkar cuaca karena alat tersebut harus bebas dari pengaruh langsung pemantulan panas oleh penyinaran matahari guna memenuhi persyaratan kinerjanya. Tetapi juga ada alat yang malah harus langsung kena radiasi bumi, seperti : Sunshine Recorder, Panci Evaporasi harus bebas menangkap curahan hujan, Anemometer dan Wind Direction dipasang pada ketinggian 10-15 meter dari permukaan tanah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.      Alat yang Terdapat di Stasiun Meteorologi dan Klimatologi

a.      Sangkar Termometer

Di sangkar Termometer terdapat termometer yang berfungsi untuk mengukur suhu rendah. Cara membacanya dengan melihat pergerakan air raksanya apakah turun atau naik. Kondisi pada saat itu yaitu, :

·         Termometer bola kering pada saat itu menunjukan angka ± 25,4o C dan bola basah menunjukan angka ± 27,6o C sehingga selisihnya adalah ± 2,2o C. Angka 2,2o C itu merupakan kelembaban suhu (Rh), jadi dapat ditarik kesimpulan cara menghitung kelembaban suhu adalah Hasil dari termometer kering dikurangi dengan hasil termometer basah.

·         Termometer minimum untuk mengukur suhu udara rendah. Suhu minimum pada saat itu adalah berkisar ± 23 o C. sedangkan  termometer maximum adalah untuk mengukur suhu udara tinggi. Suhu maximum di saat itu  ± 27o C . Rata-rata suhu maximum adalah 33o C dan suhu maximum adalah 50o C.

·         Termometer biasa suhu pada saat itu menunjukan ± 28o C. 

·         Barometer digunakan untuk mengukur tekanan udara, tekanan udara pada saat itu ± 1003 MB. 

 

 

 

Gambar 2
Sangkar Termometer

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b.      Sangkar Tanah

Sangkar tanah berfungsi sebagai alat yang digunakan untuk mengukur suhu tanah. Terdapat bermacam-macam termometer dengan angka terbenamnya termometer yang berbeda, yaitu :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar angka terbenamnya termometer

 

Termometer yang terdalam yaitu 50 m. Di sana juga terdapat Soil Tester, yaitu : Alat yang digunakan untukmengukur pH tanah. Diketahui pH tanah pada saat itu yaitu berkisar ± 6,1 dan kelembabannya ± 85 %.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3

Sangkar Tanah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

c.       Umbrometer  atau Penakar Curah Hujan Otomatis

Umbrometer adalah Alat yang digunakan untuk mengukur curah hujan. Alat ini berfungsi secara otomatis. Di kertas pengukuran terdapat skala 7, 8, 9, 10, 11, 12  pada bagian atas kertas menunjukan jam, dan skala 0 – 10 yang tersusun dari atas ke bawah menunjukan volume curah hujan. Cara kerjanya, yaitu : Jika terjadi  hujan pena akan naik dan menggores kertas pengukur dalam bentuk garis lurus. Jika terjadi hujan yang sangat deras, maka air akan tumpah karena sudah tidak dapat ditampung dan pena akan bergerak ke atas dan secara otomatis mencatat skala curah hujannya. Cara percoobaan di saat itu yaitu dengan menyiramkan air pelan – pelan ( seperti layaknya hujan ). Setelah air yang ditampung penuh, maka air akan meluber dan menyebabkan pena bergerak sendiri secara otomatis mencatat skala yang telah dicapai. Satuan skala  yang digunakan untuk mengukur curah hujan pada umbrometer otomatis tersebut adalah millimeter.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4

Umbrometer  atau Penakar Curah Hujan Otomatis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

d.      Umbrometer atau Penakar Hujan Biasa  

Alat ini fungsinya sama yaitu untuk mengukur besarnya curah hujan. Alat ini digunakan hanya pada saat jam pada umbrometer otomatis mati atau kehabisan tinta. Biasanya dicek oleh penjaga setiap pagi dan sore Alat ini berhubungan dengan panci evaporasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5

Umbrometer atau Penakar Hujan Biasa

 

 

 

 

 

 

e.       Termohidrograf

Termohidrograf adalah alat yang digunakan untuk mengukur kelembaban dan suhu.

            Angka 2, 4, 6, 8,… è Menunjukan Jam

            Angka 0 – 100       è Menunjukan Kelembaban

            Angka 0 – 50         è Menunjukan Temperatur atau suhu

Alat ini bekerja karena pengaruh bulu kuda yang menerapkan prinsip pemuaian . Bagian atas menunjukan kelembaban harian yang dapat dibaca selama satu minggu dan suhu minus dapat dibaca. Alat ini berpengaruh pada memuai atau tidaknya bulu kuda yang ada disamping alat tersebut. 

Gambar 6

Termohidrograf

 

 

 

 

 

f.       Wind Direction

Wind Direction adalah alat untuk mengetahui arah mata angin. Apakah angin berasal dari barat, timur, selatan, utara, tenggara, barat laut, timur laut, dan barat daya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7

Wind Direction

Melihat gambar di atas maka dapat diperkirakan ketinggian dari Wind Direction. Orang yang berdiri di dekat Wind Direction itu merupakan media ukur dalam memperkirakan ketinggian alat tersebut. Diperkirakan ketinggian Wind Direction itu lebih dari 175 cm, yaitu kurang lebih 3 meter di atas permukaan tanah.

 

 

g.      Anemometer

Anemometer adalah alat yang digunakan untuk mengetahui kecepatan angin yang dipasang pada ketinggian 0,5 s.d 1 meter di atas permukaan tanah.    

Proses kerjanya, yaitu : angin yang bertiup akan menerpa mangkok pemutar dan kemudian secara otomatis speedometer akan bergerak dan menunjukan angka dengan satuan  km/jam. Rumus untuk menghitung kecepatan angin :

                       

 

 

 

 

 

Alat ini ada kaitannya dengan Wind Direction. Perhitungan dilakukan selama 3 kali yaitu : pada pagi hari, siang, sore ( Pukul 07.00, 13.00, dan 18.00 ).

 

 


                

 

 

 

 

 

 

Gambar 8

Anemometer

 

 

h.      Panci Evaporasi

Panci evaporasi adalah alat yang digunakan untuk menghitung tingkat penguapan. Pada saat pengukuran ujungnya yang runcing harus berada pada permukaan air. Pada musim hujan standart penguapannya sama dengan 40 ml.

            Rumus untuk menghitung besarnya penguapan adalah sebagai berikut :

a)      Jika tidak terjadi hujan      = Awal – Beda ( A – B )

b)      Jika terjadi hujan               = Awal + Curah hujan – Beda

Juga terdapat termometer minimum dan maximum yang digunakan untuk mengukur suhu air.      

Gambar 9

Panci Evaporasi

    

 

 

 

 

 

i.        Sunshine Recorder

Sunshine Recorder  adalah alat yang digunakan untuk mengukur lamanya penyinaran matahari. Sunshine Recorder terbagi menjadi 3 macam kertas pias :

1)      Pias lengkung pendek.

      Letaknya di sebelah selatan menunjukan garis lintang  dan bujur . Pias ini menujukan bulan kering.

2)      Pias lurus                          

Terletak di tengah yaitu pada garis khatulistiwa.            

3)      Pias lengkung panjang     

Terletak di bagian utara. Ini menujukan bulan basah.

Bola kristalnya disebut Aktinograf

Proses kerjanya : Sinar matahari melalui aktinograf dan dapat membakar kertas pias.

Jadwal  Pergantian Kertas Pias

Bentuk

Belahan Bumi Utara

Belahan Bumi Selatan

Pias lengkung panjang

11 April – 31 Agustus

11 Oktober – 28 Pebruary

Pias lurus

1 September – 10 Oktober

1 Maret – 10 April

Pias lengkung pendek

11 Oktober – 28 Pebruari

10 April – 31 Agustus

Pias lurus

1 Maret – 10 April

1 September – 10 Oktober

Cara meletakan kertas pias angka 12 harus berada di tengah.

Cara menghitung radiasi, yaitu :

Angka 6 – 18 menunjukan jam, misalnya :

·         Dari 9 – 10 kertas pias terbakar penuh hal ini menunjukan bahwa radiasi matahari yang terjadi adalah 100%.

·         Jika dari 9 – 10 kertas pias yang terbakar seperti gambar, di bawah :

                             8              9          10

 

 

maka kita tentukan dulu, lalu kita buat garis tengahnya ( kita bagi dua terlebih dahulu ).  Jika kertas pias yang terbakar menunjukan terputus – putus, maka ini mendapat pengaruh dari awan ( radiasi matahari terhalang oleh awan )

 

 

 

 

 


Misal : dari jam 6 – 18 kertas pias terbakar 850%           

Maka radiasi matahari =  = 85%

Angka 10 menunjukan lama lintasan sinar matahari beredar 1 hari

 

Sunshine Recorder

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 10

j.        Umbrometer

Umbrometer adalah alat untuk mengukur curah hujan. Alat ini pada dasarnya dengan umbrometer lainnya sama, perbedaannya pada saat pencatatan penanya akan bergerak menyamping sedangkan untuk umbrometer otomatis penanya bergerak lurus secara vertikal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 11

Umbrometer

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

a.      Kesimpulan

Dari hasil field study yang dilaksanakan pada hari minggu,                  18 Desember 2005, maka dapat ditarik kesimpulan, yaitu :

·         Kegunaan labolatorium Klimatologi di desa Sukosari, Kec. Jumantono, Kab. Karanganyar, yaitu antara lain : Untuk praktikum profil tanah, untuk dasar-dasar agronomi, untuk penelitian agronomi, dan digunakan untuk praktikum kesuburan tanah.

·         Tata air tanahnya kurang baik sehingga di sekitar daerah stasiun Meteorologi dan Klimatologi  tidak ada sarana prasarana irigasi untuk bidang pertanian.

·         Terdapat sepuluh macam alat yang terdapat di stasiun Meteorologi dan Klimatologi, yaitu antara lain :

a.       Sangkar Termometer ( Berfungsi untuk mengukur cuaca atau suhu )

b.      Sangkar Tanah ( Berfungsi untuk mengukur suhu, kelembaban, dan pH tanah ).

c.       Umbrometer Otomatis ( Berfungsi untuk mengukur curah hujan )

Pengukuran curah hujan secara otomatis.

d.      Umbrometer Biasa ( Berfungsi untuk mengukur curah hujan )

Umbrometer ini hanya digunakan pada saat umbrometer otomatis jamnya mati atau kehabisan pena.

e.       Termohidrograf ( Berfungsi untuk mengukur kelembaban dan suhu )

f.       Wind Direction ( Berfungsi untuk mengetahui arah angin )

g.      Anemometer  ( Berfungsi untuk mengukur kecepatan angin )

h.      Panci Evaporasi ( Berfungsi untuk menghitung tingkat penguapan )

i.        Sunshine Recorder ( Berfungsi untuk mengukur lamanya penyinaran matahari  )

j.        Umbrometer ( Berfungsi untuk mengukur curah hujan )

b.      Saran

Dari Hasil Field Study Geologi Dasar di Kec. Bayat, Kab. Klaten khususnya di gunung Pendul dan  Jabalkat maka kelompok kami mempunyai beberapa saran yaitu sebagai berikut :

·         Dilihat dari kondisi lokasinya yang terletak di alam terbuka, maka tingkat keamanan alat – alat perlu diperhatikan yaitu dengan meninggikan pagar pelindung dan memberi kawat berduri agar tidak sembarangan orang yang dapat memasuki area tersebut.

·         Pelestarian vegetasi di sana  harus dijalankan dengan baik dan membuat sarana prasarana irigasi untuk pertanian.

·         Tingkat kebersihan di sana harus dijaga dan diperhatikan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 Daldjoeni, N. 1986. Pokok-Pokok Klimatologi. Alumni. Bandung.

Winubroto S, Lela S & Nitisapto M. Asas-Asas Meteorologi Pertanian. Ghalia Indonesia. Yogyakarta.

 

0 komentar:

Posting Komentar