Pages

Selasa, 12 Januari 2021

Praktikum Tanah

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang Masalah

            Praktikum Geografi Tanah ini merupakan salah satu mata kuliah di program studi Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan bobot 2 sks.  Tujuan dari mata kuliah tersebut agar mahasiswa dapt mendiskripsikan sifat-sifat tanah, jenis atau macam tanah.  Untuk dapat  mencapai tujuan tersebut, selain teori yang disampaikan di dalam kelas, juga diperlukan praktikum dilapangan untuk dapat mengamati secara langsung kenampakan-kenampakan yang ada di lapangan.  Praktikum di lapangan sangat membantu dalam menjelaskan teori yang disampaikan di dalam kelas, antara lain untuk menjelaskan sifat dan karakteristik tanah yang hanya bisa dikenali di lapangan sekaligus dapat menambah pengetahuan tentang tanah, misalnya tentang kedalaman solum tanah, batas horison, warna tanah, struktur dan tekstur tanah, serta berbagai macam informasi yang terdapat pada profil tanah.

            Tanah mempunyai berbagai manfaat yang besar bagi kehidupan manusia, oleh karena itu tanah menjadi sangat menarik dan penting untuk dikaji.  Praktikum dilaksanakan sebagai syarat dari mata kuliah Praktikum Geografi Tanah.  Adapun yang melatarbelakangi dipilihnya desa Gantiwarno dan pegunungan Pendhul sebagai daerah penelitian adalah karena daerah tersebut memiliki tanah yang bervariasi jenis dan karaktristiknya, bentuk lahannya, struktur geologinya, dan juga karena daerah ini termasuk pegunungan yang tertua di pulau Jawa.  Keanekaragaman inilah yang menjadikannya menarik untuk dikaji.  Karena semakin banyak variasinya, maka semakin banyak pula informasi atau pengetahuan tentang tanah yang akan didapat.

 

 

 

 

 

B.  TUJUAN PENELITIAN

            Tujuan penelitian ini antara lain sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui sifat dan karakteristik tanah yang ada di daerah penelitian

2. Untuk mengetahui macam tanah dan perbedaannya pada setiap titik sampel

3. Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik tanah dengan pemanfaatan lahan oleh penduduk setempat di daerah penelitian.

C.  MANFAAT PENELITIAN

            Dari penelitian tanah yang dilakukan dalam rangka melengkapi matakuliah Praktikum Geografi Tanah di Kecamatan Bayat, diharapkan ada manfaat yang dapat diambil oleh mahasiswa pada khususnya ataupun para pembaca pada umumnya. Manfaat-manfaat yang dapat diperoleh antara lain:

1.      Meningkatkan kemampuan, pemahaman, dan ketrampilan mahasiswa dalam melihat fenomena-fenomena alam yang ada.

2. Mengembangkan keilmuan dan pengetahuan dalam bidang ilmu Geografi

3.  Mengetahui sifat dan karakteristik tanah, sehingga dapat digunakan sebagai masukan dalam pemanfaatan lahan yang tepat.

4.  Meningkatkan kesadaran akan pentingnya peranan manusia dalam menjaga, memelihara dan memanfaatkan sumberdaya alam.

            5.  Sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya.

6.  Mengetahui keadaan yang sebenarnya (di lapangan) terkait dengan teori yang didapatkan pada saat perkuliahan di dalam kelas.

7.  Meningkatkan wawasan kelingkungan dan membentuk sifat kritis dalam menghadapi permasalahan di lingkungan sekitar.

 

 

 

 

 

METODE PENELITIAN

 

A.  METODE PENGAMBILAN SAMPEL

            Pengambilan sampel tanah dilakukan pada setiap titik atau stop sit.  Sebelum dilakukan pengambilan sampel tanah, terlebih dahulu dibuat profil tanah (penampang vertikal tanah yang menunjukkan horison tanah).  Dalam pemba\uatan profil tanah, ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan, antara lain

1.      Sampel harus mewakili jenis tanah yang ada di daerah tersebut.

2.      Profil terletak pada lapisan tanah yang masih asli.  Tanah yang akan dibuat profil adalah tanah yang belum terdapat proses atau pengolahan yang dilakukan  oleh manusia secara langsung yang mempengaruhi horison tanah.

3.      Jauh dari batas tanah tanah

4.      Mudah di jangkau

5.      Tidak terkena sinar matahari secara langsung agar sifat-sifat tanah (warna dan batas-batas horison) tidak terbiaskan.

Penelitian yang dilakukan di daerah Bayat, lokasi pembuatan profil tanah dan pengambilan sampel tanah dilakukan pada tempat yang berbeda-beda.  Pengambilan sampel tanah dialakukan pada tiga tempat, yaitu ; lereng atas, lereng tengah dan lereng bawah, dengan perincian sebagai berikut :

1.      Sampel I (titik pengamatan 1)

Pengambilan sampel tanah pada titik ini dilakukan pada lereng atas perbukitan Pendhul, kecamatan Bayat yang berupa tegalan dengan tanaman didominan palawija dan  Jati.

2.      Sampel II (titik pengamatan 2)

Pengambilan sampel dilakukan pada lereng tengah perbukitan Pendhul. Jenis vegetasi masih sama seperti yang ada di lereng atas.

3.      Sampel III ( titik pengamatan 3)

Pengambilan sampel dilakukan pada lereng bawah, yang berupa persawahan yang datar. Tanaman dominan padi dan palawija.

 

B.     MACAM DATA

Macam data yang diperoleh di lapangan dari hasil penelitian yang dilakukan penelitian ini data yang diperlukan diperoleh dilapangan secara langsung (data primer) dan dari data yang lain yang sudah ada sebelumnya (data sekunder). Adapun data primer dan data sekunder yang diperlukan dalam penelitian adalah sebagai berikut :

a.       Data Primer

Data primer yang diperoleh meliputi:

1.      Tempat Penelitian

2.      Cuaca

3.      Vegetasi

4.      Keadaan solum tanah

5.      Batas horison

6.      Warna tanah

7.      Konsistensi tanah

8.      Perakaran

9.      pH tanah

10.  Kandungan Bahan Organik

11.  Kandungan kapur (Ca)

b.      Data Sekunder

Data sekunder yang digunakan antara lain:

1.      Ketinggian tempat

2.      Iklim

3.      Tipe batuan

4.      Bentuk lahan

5.      Penggunaan lahan

6.      Erosi

7.      Kelas Lereng

 

 

 

C.  ANALISIS DATA

 

1.      Tanah

Diseluruh permukaan bumi terdapat berbagai variasi tanah, berdasarkan tingkat kesuburan, warna, dan sifat-sifatnya.

Definisi tanah menurut beberapa ahli ada beberapa pengertian antara lain:

a.       Berzelius (1803), seorang ahli kimia Swedia, menamakan tanah sebagai laboraturium kimia alam, dimana berbagai proses dekomposisi dan proses kimia berlangsung secara perlahan.

b.      Hillgard (1906), mendefinisikan tanah sebagai bahan yang gembur dan lepas, tempat tumbuhan memperoleh kehidupan berkat adanya zat hara serta persyaratan tumbuh tanaman yang lain.

c.       Dokuchaiev (1870).  Beliau mengatakan bahwa tanah adalah bentukan mineral dan organik permukaan bumi, yang sedikit banyak selalu diwarnai oleh humus, dan dikatakan pula bahwa tanah sebagai hasil kombinasi bahan organik seperti jasad renik yang hidup maupun yang telah mati, bahan induk, iklim, dan relief.

d.      Thales (1909), mengatakan bahwa planet kita ini terdiri dari bahan yang remah dan lepas yang dinamakan tanah.  Tanah ini merupakan akumulasi dan campuran berbagai bahan, terutama terdiri atas unsur-unsur Si, Al, Mg, Ca, Fe, dan unsur-unsur lainnya.

e.       Poremmer (1958), mendefinisikan tanah sebagai bagian dari permukaan kulit bumi yang terjadi karena pelapukan kimia dan fisika, dan merupakan tempat kegiatan berbagai tumbuhan dan hewan.

f.       Soil Survey Staff (1990), Tanah adalah kumpulan benda alam di permukaan bumi, setempat-setempat, dimodifikasi, atau bahkan dibuat oleh manusia dari bahan bumi, mengandung kecil–kecil kehidupan, dan menopang atau mampu menopang pertumbuhan tanaman di luar rumah.

g.      M. Isa Darmawijaya (1990), dalam bukunya yang berjudul “Klasifikasi Tanah” mendefinisikan tanah sebagai berikut: tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagian besar permukaan bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim, jasad hidup (organisme) yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief tertentu selam jangka waktu tertentu.

Dari definisi-definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas yang menduduki sebagian besar permukan bumi yang tersusun atas horison-horison yang terdiri dari bahan mineral atau organik, serta mampu menumbuhkan tanaman dan memiliki morfologi, sifat, dan karakteristik sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup (organisme) yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu.

Dari pengertian-pengertian tersebut dapat diketahui bahwa :

a.       Tanah merupakan bagian dari planet bumi ini

b.      Tanah tersusun atas horison-horison yang terdiri dari bahan mineral dan bahan organik.

c.       Tanah merupakan tempat tumbuhnya tanaman.

d.      Tanah mempunyai morfologi, sifat dan karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lain.

e.       Morfologi, sifat dan karakteristik tanah dipengaruhi oleh iklim, bahan  induk, organisme, relief, dan waktu.

2.      Faktor-Faktor Pembentuk Tanah

Pembentukan tanah dipengaruhi oleh lima faktor pembentuk tanah yang bekerja melalui berbagai proses, baik fisik maupun kimia.  Jenny (1946) merumuskan korelasi antara sifat-sifat tanah dan faktor genesa tanah sebagai berikut :

s = F (I, h, b, t, w,…)

 

 

s           = sifat-sifat tanah, seperti kadar lempung, pH dan lain-lain.

i           = iklim

h          = mahluk hidup

b          = bahan induk

t           = topografi

w         = waktu

Joffe (1994), membedakan dua golongan pembentukan tanah, yaitu :

1.      Pembentukan tanah yang pasif, yaitu bagian-bagian yang menjadi sumber massa dan keadaan yang mempengaruhi massa, meliputi bahan induk, topografi dan waktu.

2.      Pembentukan tanah yang aktif, yaitu faktor-faktor yang menghasilkan energi yang bekerja pada massa, antara lain diwakili oleh biosfer, atmosfer, dan hidrosfer.

Dalam penelitian ini, faktor-faktor pembentuk tanah yang dipakai adalah menggunakan kesepakatan para ahli tanah, yaitu : iklim, bahan induk, organisme, topografi, dan waktu.

a.       Iklim

Glen T. Trewarta mengemukakan arti iklim sebagai susunan atau keadaan umum kondisi cuaca dari hari ke hari.  Maksudnya adalah, iklim merupakan kelanjutan dari pencatatan unsur cuaca dari hari ke hari dalam jangka waktu yang lama, sehingga merupakan rata-rata dari unsur-unsur cuaca secara umum.

1.      Pengaruh curah hujan

Dari analisa Jenny di USA tahun 1941 (Darmawijaya, 1990), pengaruh cuaca terhadap sifat tanah adalahterjadinya proses pertindihan unsur-unsur K, Na, CaCO3, C, dan N di dalam tanah

2.      Pengaruh temperatur

untuk menentukan temperatur tahunan rata-rata (T) diperkirakan dengan menggunakan rumus seperti berikut :

T = 26,3°C – 0,61 h    (Sitanala Arsyad)

Rumus tersebut menunjukan bahwa temperatur udara suatu tempat pada daerah tropis dipengaruhi oleh ketinggian letak suatu tempat dari permukaan air laut (h dalam hm) yaitu untuk kenaikan 100 m temperatur udara turun rata-rata di daerah pantai (0 m dpal).

Temperatur mempengaruhi pembentukan tanah melalui dua cara, yaitu :

a.       memperbesar evapotranspirasi), sehingga mempengaruhi pula gerakan air dalam tanah.

b.      mempercepat reaksi kimia tanah (Darmawijaya, 1990).

Sedangkan menurut Bayang Tjasyono, iklim merupakan rata-rata cuaca dalam jangka waktu relatif lama, sehingga unsur antara iklim dan cuaca sama, yaitu temperatur udara, kelembapan udara, curah hujan, angin, durasi sinar matahari dan beberapa unsur iklim lainnya (Bayang Tjasyono, 1986).  Unsur-unsur tersebut yang paling berpengaruh terhadap proses pembentukan tanah adalah temperatur dan curah hujan.

Menurut Anche Gunarsih Saputra (1988 : 12) temperatur di suatu tempat dipengaruhi oleh beberapa faktor :

1.      Jumlah radiasi yang diterima.

2.      Pengaruh daratan dan lautan.

3.      Pengaruh ketinggian tempat.

4.      Pengaruh angin secara tidak langsung.

5.      Pengaruh panas laten (panas yang disimpan matahari)

6.      Penutupan lahan (vegetasi)

7.      Tipe tanah.

8.      Pengaruh sudut datang sinar matahari.

b.      Bahan induk

Bahan induk berpengaruh  pada proses pembentukan tanah. Tanah biasanya dapat mencirikan asal bahan induknya tetapi hal ini tidak selalu terjadi. Tanah yang memperlihatkan sifat-sifat (terutama kimia) yang sama dengan bahan induknya digolongkan dalam tanah-tanah endodynamomorf. Sedangkan tanah yang memperlihatkan sifat-sifat yang lain dari bahan induk asalnya digolongkan dalam tanah ectodynamomorf.

Sifat-sifat penting bahan induk yang berpengaruh terhadap proses pelapukan antara lain tekstur batuan, struktur batuan, keasaman, kadar Ca, dan kandungan mineral yang menyusun batuan. Tiap sifat bahan induk merupakan faktor pengubah bebas dalam pembentukan yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Tekstur dan struktur batuan biasanya mempengaruhi dalamnya profil tanah. Makin ringan tekstur tanahnya maka makin dalam profil tanahnya. Batuan granit yang bertekstur kasar di daerah yang beriklim humid-sedang akan lebih cepat mengalami pelapukan daripada granit yang bertekstur halus, meskipun mempunyai susunan mineral dan kimia yang sama. Satuan golongan jenis bahan induk juga mempunyai pengaruh terhadap tanah yang terbentuk, contoh tuff-andesit membentuk tanah latosol merah yang dalam, sedangkan batuan andesit hanya membentuk tanah latosol merah yang dangkal.

c.       Organisme

Semua mahluk, baik pada saat hidupnya maupun ketika sudah mati, mempunyai pengaruh terhadap pembentukan tanah.  Diantara mahluk hidup tersebut, yang paling berpengaruh adalah vegetasi, karena kedudukannya tetap untuk waktu yang lama.  Sedangkan pengaruh hewan dan manusia umumnya merupakan pengaruh yang tidak langsung, yaitu melalui vegetasi.  Pengaruh ini tampak sekali pada sifat-saifat tanah antara lain C/N, pH, prosentase bahan induk, prosentase Nitrogen dan lain-lain (Darmaeijaya 1990).

d.      Topografi

Keadaan topografi dapat mempengaruhi proses pembentukan tanah. Topografi dapat mempercepat ataupun memperlambat proses tersebut. Suatu saerah yang bertopografi perbukitan akan mempercepat proses pembentukan dan perkembangan tanah daripada daerah yang datar. Daerah yang miring (berbukit-bukit) akan mempermudah terjadinya erosi sehingga mempercepat pelapukan fisik dan kimia oleh air yang melewatinya.

Di daerah dataran sering terdapat cekungan yang menampung air, karena air menggenang dan tidak mengalir sehingga membentuk tanah rawa di daerah humid dan Wiesenboden di daerah humid dan semi arid.

Arah lereng dalam hubungannya dengan terbukanya sinar matahari serta tiupan angin sangat penting dalam membentuk jenis vegetasi dan tanah yang berbeda. Tanah yang tertutup sinar matahari akan memperlambat proses pelapukan oleh panas matahari.

e.       Waktu

Faktor lama waktu pelapukan dan perkembangan tanah mempengaruhi tanah yang terbentuk. Semakin lama proses pelapukan terjadi maka tanah akan cepat berkembang. Mohr membedakan lima tahap waktu pembentukan tanah dalam yaitu:

1)      Tahap permulaan, bahan induk masih belum mengalami pelapukan, baik fisik maupun kimiawi.

2)      Tahap juvenil, proses pelapukan sudah mulai berjalan

3)      Tahap viril, proses pelapukan dalam tahap optimum

4)      Tahap senil, proses pelapukan berlangsung sudah lanjut sehingga tidak begitu hebat dan bahkan kecepatannya mulai menurun.

5)      Tahap terakhir, proses pelapukan sudah berakhir.

Menurut tahap waktunya dari bahan induk andesit di Indonesia dapat dibentuk berturut-turut :

1)      Tanah Regosol Muda pada tahap permulaan.

2)      Tanah Regosol Tua atau disebut juga tanah Tarapan sebagai tanah Juvenil.

3)      Tanah Latosol Coklat sebagi tahap viril.

4)      Tahap Latosol Merah sebagai tahap senil.

5)      Tahap Laterit sebagai tahap akhir.

 

3.      Sifat-Sifat Tanah

a.       Sifat Fisika

Sifat fisika tanah berhubungan erat dengan kelayakan pada banyaknya penggunaan yang diharapkan, yaitu kekokohan dan kekuatan yang mendukung, drainase dan kapasitas menyimpan air, plastisitas, kemudahan ditenbus oleh akar, dan aerasi, yang semuanya  berkaitan dengan sifat kimia tanah. 

Sifat-sifat fisika tersebut antara lain :

1.      Tekstur Tanah

Tekstur merupakanukuran relatif partikel tanah atau perbandingan antara pasir, debu, dan lempung. (Foth 1978).  Yang secara sederhana dapt dideskripsikan sebagai berikut :

a.       Tekstur kasar

b.      Tekstur sedang

c.       Tekstur halus

Semakin banyak kandungan pasirnya, maka tekstur tanah tersebut semakin kasar.

2.      Struktur tanah

Struktur tanah didefinisikan sebagai susunan pengikatan partikel-partikel tanah satu dengan yang lain.  Struktur tanah yang ada dilapangan terdiri atas :

a.       Tipe struktur

-          tipe struktur lempeng

-          tipe struktur tiang

-          tipe struktur remah

-          tipe struktur granuler

-          tipe struktur berbutir tunggal

-          tipe struktur pejal (masif)

b.                                          Derajat struktur

Dalam buku “Soil Survey Manual”, derajat struktur dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :

-          tidak beragregat

-          lemah

-          cukup (sedang)

-          kuat

-          sangat kuat

3.      Konsistensi tanah

Konsistensi tanah adalah derajat kohesi dan adhesi antara partikel-partikel tanah oleh tekanan dan kekuatan yang berpengaruh terhadap bentuk tanah.  Konsistensi tanah dibagi kedalam tiga kondisi tanah, yaitu tanah dalam kondisi basah, lembab, dan kering.  Dalam menguji konsistensi ini, menggunakan telapak tangan dan jari tangan denga meremas atau memilin.

Konsistensi tanah didiskripsikan sebagai berikut :

a.       Konsitensi tanah dalam keadaan basah

Tanah basah adalah tanah yang dibuat dari tanah lembab (tanah pada keadaan normal, kemudian dicampur dengan air).  Diskripsinya adalah sebagai berikut :

-          so : simbol untuk tanah tidak lekat (non sticky), jika tanah diremas, maka tidak ada tanah yang melekat pada jari tangan.

-          ss : simbol untuk tanah agak lekat (shight sticky), ada tanah yang tertinggal pada salah satu jari.

-          s  : simbol untuk tanah lekat (sticky), tanah tertinggal pada dua jari (telunjuk dan ibu jari)

-          vs : simbol untuk tanah sangat lekat (very sticky), tanah sukar dilepaskan dari krdua jari.

b.      Konsitensi tanah dalam keadaan lembab

Tanah disebut lembab apabila kadar air diantara titik layu permanen dan kapasitas lapang (tanah yang terdapat pada profil tanah biasanya dalam kondisi ini). Jika tanah terlalu kering, maka dapat ditambahkan sedikit air.  Konsistensi tanah pada kondisi ini di bagi menjadi :

·         L    : konsistensinya lepas (loos).  Butir-butir   tanah terlepas satu sama lain.

·         VT :  sangat gembur (very teriable).  Dengan       sedikit tekanan saja tanah mudah bercerai, bila digenggam masih dapat menggumpal.

·         T    :  menggumpal

·         ST  : sangat teguh.  Massa tanah menggumpal, ,memerlukan tenaga yang cukup kuat untuk memecahkan gumpalannya.

c.       Konsitensi tanah dalam keadaan kering

Tanah disebut kering apabila kadar air kurang dari titik layu permanen.  Konsistensi tanah kering ditentukan dengan cara meremas tanah dengan telapak tangan.           

4.      Horison tanah

Pada umumnya tanah mempunyai horison-horison, yaitu lapisan tana yang terletak hampir sejajar dengan permukaan, dengan ciri-ciri kesudahan proses permukaan tanah.  Berikut ini adalah horison tanah utama yang digunakan untuk memerikan tanah yang ada di dunia (Burigh, 1979)

-  Horison H

Terdiri atas bahan organik yang diendapkan di permukaan tanah.  Kadar zat organiknya lebih dari 30% pada tanah lempung, dan pada tanah pasir kadar zat organiknya lebih dari 20%.  Horison ini terdiri dari bahan gambut yang bersusunan dan beraneka ragam, tergantung pada jenis vegetasi yang menjadi asal bahan organik.  Horison ini hanya dapat terbentuk pada keadaan anaerob, apabila tanah selalu mampat air.

 

 

-  Horison O

Merupakan horison organik permukaan yang terbentuk dari longgokan zat organik yang diendapkan di permukaan, akan tetapi tidak jenuh air, yaitu terdapat pada lapisan organik diatas tanah-tanah hutan tropika.  Pada umumnya terdiri atas bahan organik yang terurai sebagian.

-  Horison A

Merupakan horison mineral permukaan yang didalamnya teronggok yang menjadi humus, karena itu horison ini berwarna gelap daripada horison B yang ada dibawahnya.  Bahan organik yang terurai tercampur dengan bahan mineral oleh proses biologi.

-  Horison E

Merupakan horison eluivial dibawah horison H, O atau A. berkadar zat organik lebih rendah dan berwarna lebih muda serta mengalami pemekatan pasirdan debu kuarsa atau mineral tak terlapukkan yang lain.  Horison ini terbentuk karena penghilangan besi atau aluminium atau lempung halus yang telah terngkut dan teronggok didalam horison B yang ada dibawahnya.  Jika ada butir pasirnya, maka pasir tersebut akan mengalami pemudaran

-  Horison B

Horison ini merupakan horison minerl bawah permukaan yang dicirikan oleh pemekatan halus (Bt), besi (Bs’), aluminium (Bs), atau humus secara iluvial baik sendiri-sendiri atau penggabugan, juga dicirikan oleh pelenggokan nisbi seskui oksida (seperti dalam ferrasol) atau penggubahan bahan  tanah, sehigga berstruktur gumpal atau prismaatau mendapatkan warna yang lebih intensif (Bw).  Ini menunjukkan bahwa terdapat sejumpah rupa horison B.

-  Horison C

Merupakan bahan tanah bawahan yng terletak lebih dalam, pada umumnya berupa bahan induk yang nyaris tidak terkena proses pembentukan tanah.  Kebanyakan horison ini agak berubah oleh prose pelapukkan.  Ada aliran berangsur dari horison B ke C.

-  Horison R

Lapisan ini terdiri dari batuan yang keras, yang sebenarnya bukan merupakan horison tanah sejati

a.       Simbol horison

-          simbol horison dengan huruf  besar (O, A, B, C, R) digunakan untuk menamai horison genesis utama

-          masing-masing horison di bagi lagi menjadi horison yang lebih rinci, dengan mengguanakan angka dan huruf kecil. Misalnya : A29, B2Ca dan lain lain.

-          simbol dengan angka romawi didepan simbol horison utama menunjukkan diskontinuitas akibat perbedaan lapisan batuan/geologi

-          jika terdapaturutan horison lebih dari satu, maka untuk yang kedua diberi tanda titik satu atau dua, missal: A2, B2.B3

b.      Batas horison.

Yang digunakan sebagai batas horison antara horison satu dengan horison lainnya antara lain jelas tidaknya batas horison.

-    Tegas (abrupt)

-    Jelas (Clear)

-    Lambat laun (gradual)

-    Baur (diffuse)

5.  Warna Tanah

Warna tanah dapat membantu dalam memahami sifat-sifat tanah, terutama bagi masyarakat umum yang masih awam terhadap ilmu tentang tanah.  Dengan warna, dapat diketahui kandungan bahan organik, kondisi drainase, aerasi dan sifat-sifat tanah yang lain. 

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi warna tanah antara lain :

a.       Mineral yang dikandungnya

Tanah yang berwarna kelabu muda tersusun dari mineral yang telah mengalami perubahan kimia.  Banyaknya warna tanah pada  tanah tropika disebabkan karena melimpahnya oksida besi.

b.      Kandungan bahan organik

Warna tua (gelap) pada tanah beriklim sedang disebabkan oleh kandungan bahan organik yang tinggi.

c.       Drainase

Bila drainase tanah buruk, biasanya terdapat penimbunan bahan organik lebih besar pada lapisan permukaan, sehingga menyebabkan warna yang sangat tua.  Bial drainase sedang-sedang saja, mungkin, pada tanah akan diselingi bercak-bercak kuning.

Pengukuran warna tanah dapat dilakukan dengan bantuan buku warn atanah Munssell.  Munssell mengukur warna tanah yanah dengan tiga sifat dasarnya, yaitu; corak, nilai dan kroma.  Corak, mengacu pada warna cahaya (panjang gelombang yang dominan).  Nilai disebut juga kecemerlangan, mengacu pada kuantitas cahaya total.  Nilai ini bertingkat dari warna tua ke warna yang lebih muda.  Kroma adalah kemurnian relatif panjang gelombang cahaya yang dominan.  Kroma semakin besar jika perbandingan cahaya putih semakin menurun.

Notasi warna Munssell adalah penandaan angka dan huruf secara sistematis, masing-masing dari tiga sifat variabel warna.  Ketiga sifat ini selalu diberikan dalam ukuran corak, nilai dan kroma.

Peranan warna tanah dalam pedogenesis adalah :

-          Indikator sifat fisika kimia tanah.

-          Indikator lingkungan.

-          indikator kandungan tanah.

-          Dalam beberapa hal warna tanah digunakan sebagai salah satu kriteria dalam klasifikasi tanah.

Menurut Olson (1981) bahwa warna tanah ini sangat penting untuk diketahui karena kemampuannya memberi sejumlah gambaran mengenai :

-          Segi pelikan tanah.

-          Tingkat peluruhan bahan tanah.

-          Beberapa segi unjuk-kerja dan penggunaan tanah.

-          Kandungan bahan organik tanah.

-          Gejolak musiman air tanah.

b.      Sifat Kimia Tanah

Sifat kimia tanah dapat diartikan sebagai keseluruhan reaksi fisiokimia dan kimia yang berlangsung antar penyusun tanah dan bahan yang ditambahkan ke tanah insitu (Bolt dan Bruggenwert, 1978).  Di dalam tanah juga terdapat pertukaran antar kation yang ada di permukaan tanah dan setiap bahan yang aktif, dan semua komponen yang mendukung untuk perluasan tempat pertukaran kation. Sebagian besar pertukaran kation ini di pusatkan sesuai dengan liat dan bahan organik.

Dalam penelitian ini ada bebrapa sifat-sifat kimia yang diteliti yaitu:

a.       pH tanah

b.      Kandungan bahan organik

c.       Kandungan kapur

Sedangkan cara pengukuranya adalah sebagai berikut:

a.       pH tanah (tingkat keasaman)

Pengukuran pH tanah dapat dilakukan dengan menggunakan pH meter, atau dengan menggunakan kertas pH (pH stik) dengan menambahkan larutan H2O, KCl 1 N atau CaCl2 0,01 M. pengukuran pH dengan larutan KCl akan memberikan nilai lebih rendah 0,5 – 1,5 satuan pH dibanding jika memakai larutan H2O..

Perbandingan antara bahan pelarut dengan tanah berkisar 1 : 1, 2,5 : 1 dan 5 : 1. Dalam kegiatan Praktikum Geografi Tanah ini yang dipakai adalah perbandingan 1 : 5 untuk H2O

Hasil pengukuran dengan pH meter sangat beragam tergantung dari ketelitian persiapan tanah yang akan diselidiki. Faktor yang mempengaruhi penetapan pH tanah dengan metode ini meliputi :

§  Nisbah bahan pelarutan dan tanah.

§  Kandungan garam dalam larutan tanah.

§  Keseimbangan CO2 atmosfir dan CO2 tanah.

§  Berdasar pengamatan dengan memakai bahan pelarut H2O, batasan kisaran pH tanah bisa dibagi menjadi :

·         Sangat asam sekali               < 4,4

·         Sangat asam                         4,5 – 5,0

·         Asam                        5,1 – 5,5

·         Cukup asam                         5,6 – 6,0

·         Agak asam                           6,1 – 6,5

·         Netral                       6,6 – 7,3

·         Agak alkalin             7,4 – 7,8

·         Cukup alkalin                       7,9 – 8,4

·         Sangat alkalin                       8,5 – 9,0

·         Sangat alkalin sekali > 9,1

1.   Cara kerja pengukuran pH tanah dengan memakai kertas pH  (pH stik yaitu) :

Ø  Ambil sedikit sampel tanah yang akan diukur pH-nya dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Tambahkan air aquades dengan perbandingan 5 : 1 (5 untuk air, 1 untuk tanah).  Kocok sampai tanah larut dalam air aquades kemudian diamkan sampai bahan tanahnya mengendap.

Ø  Celupkan pH stik ke dalam tabung dan jangan sampai terkena endapan tanahnya. Jika tidak sampai terendam pada batas yang ditentukan maka miringkan tabung reaksi sampai air merendam pH stik itu.

Ø  Biarkan pH stik terendam sebentar baru kemudian bandingkan dengan warna yang ada di kemasan pH stik itu dan cari kisaran nilai warna pH yang sesuai.

2.        Cara pengukuran pH tanah yang kedua adalah dengan menggunakan pH meter, caranya adalah dengan membasahi tanah yang hendak diukur pH-nya dengan air aquades kemudian tancapkan pH meter di tanah yang telah dibasahi itu. Diamkan sebentar sampai jarum pH meter menunjukkan angka pH tanah tersebut.

b.      Kandungan bahan organik

Kandungan bahan organik ini diukur dengan menggunakan larutan H2O2. Pengukurannya dengan mengambil contoh tanah yang hendak diketahui kandungan bahan organiknya, kemudian di atas tanah itu diteteskan larutan H2O2 sebanyak tiga tetes. Setelah penetesan larutan selesai segera lihat apakah tanah itu berbuih atau tidak jika tidak bisa dilihat maka dengarkan apakah contoh tanah itu berbuih atau tidak. Jika berbuih maka contoh tanah itu mengandung bahan organik dan itu tergantung banyak sedikitnya buih semakin banyak buih semakin banyak kandungan bahan organiknya. Namun jika contoh tanah itu tidak berbuih maka pada contoh tanah itu tidak mengandung bahan organik sama sekali.

c.       Kandungan kapur

Kandungan kapur ini di ketahui dengan menggunakan larutan HCl.  Pengukurannya dengan mengambil sampel tanah yang hendak diketahui kandungan kapurnya, kemudian di atas sampel tanah itu diteteskan larutan HCl sebanyak tiga tetes. Setelah penetesan larutan selesai segera lihat apakah tanah itu berbuih atau tidak jika tidak bisa dilihat maka dengarkan apakah contoh tanah itu berbuih atau tidak. Jika berbuih maka contoh tanah itu mengandung kapur.  Semakin banyak buih semakin banyak kandungan kapurnya.

d.      Drainase

Drainase tanah ini bisa diketahui dengan menggunakan larutan aa atau alpha dypiridin. Pengukurannya dengan mengambil contoh tanah yang hendak diketahui keadaan drainasenya, kemudian diteteskan larutan aa atau a dyperidin sebanyak tiga tetes. Setelah penetesan akan terlihat tanah itu apakah tanah itu berubah warna atau tidak. Jika warna tanah berubah menjadi kemerahan maka itu mengindikasikan bahwa drainase di tanah tersebut buruk.  Pada tanah yang drainasenya buruk akan terdapat bercak atau glei,

4. Klasifikasi Tanah

Pemberian  nama jenis tanah tidak bisa dilakukan secara serampangan.  Nama tanah menunujukkan sifat dan kemampuan tanah, oleh karena itu pemberian nama tanah harus mempunyai dasar ilmiah.

Tujuan umum dari klasifikasi tanah adalah untuk menyediakan suatu susunan yang teratur atau sistematik terhadap pengetahuan tentang tanah. 

Dasar-dasar umum yang dipakai untuk patokan atau kriteria dalam menyusun klasifikasi tanah yang representatif pada saaat ini (menurut Isa Darmawijaya, 1990) adalah:

a.    Klasifikasi tanah  adalah alat untuk mempermudah mengingat sifat berbagai macam jenis tanah agar lebih bermanfaat dan mempermudah penggunaan tanahnya.

b.    Sistem klasifikasi tanah harus cukup peka untuk dapat menerima perubahan-perubahan akibat kemajuan ilmu pengetahuan tanpa menimbulkan salah tafsir karena nama atau istilah yang baru.

c.    Sistem klasifikasi tanah mencakup berbagai tingkat kategori, masing masing dicirikan oleh kriteria sesuai dengan prinsip-prinsip taksonomi.

d.   Satuan-satuan tanah dipilih dari sejumlah cirri-ciri morfologi tanah dalam batas-batas tertentu.

e.    Salah satu tujuan pemetaan tanah (soil survey) adalah memilah tanah sesuai dengan cirri-ciri morfologi tanahnya.

f.     Satu satuan jenis tanah meliputi satuan lahan menurut batasan tertentu.  Pncirian batas jenis tanah merupakan pemeriksaan kontinyu terhadap klasifikasi tanah menjadi bukti bahwa satuan jenis tanah areal, buklan suatu titik.

g.    Peta hasil pemetan tanah ideal memperlihatkan satuan-satuan tanah.

h.    Guna menjamin hasil baik dan manfaat klasifikasi tanah secara maksimal, maka diperlukan badan-badan atau lembaga khusus yang selalu siap melakukan penafsiran, korelasi dan pemeriksaan guna mencegah kesimpang-siuran.

Sistem klasifikasi tanah ynag umum digunakan adalah sistem klasifikasi tanah yang dikembangkan oleh Soil Survey dari Amerika Serikat, dan sistem klasifikasi tanah dari PUSLITANAK Bogor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

DISKRIPSI FISIK DAERAH PENELITIAN

 

A.    Letak Geografis dan Administratif

Kecamatan Bayat yang menjadi daerah obyek penelitian praktikum geografi tanah ini secara astronomis terletak antara 7°44’29” BT sampai 7°48’3” LS dan 110°36’48” BT sampai 110°41’25” BT. Daerah penelitian ini secara administratif termasuk dalam wilayah Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.  Secara geografis, batas-batasnya adalah sebagai berikut :

a.       Sebelah utara berbatasan dengan daerah Kecamatan Trucuk dan Kecamatan Klaten Selatan.

b.      Sebelah timur berbatasan dengan daerah Kecamatan Cawas.

c.       Sebelah selatan berbtasan dengan daerah Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

d.      Sebelah barat berbatasan dengan daerah Kecamatan Wedi.

      Daerah penelitian ini berdasarkan data di Kecamatan Bayat tahun 1992 luasnya 39,43 km2 atau 3943 ha, yang terdiri dari 18 desa yaitu Desa Paseban, Bogem, Nengahan, Beluk, Banyuripan, Dukuh, Jambakan, Ngerangan, Tegalrejo, Talang, Tawangrejo, Wiro, Kebon, Krikilan, Jotangan, Krakitan, Gununggajah, dan Desa Jarum.

B.     Iklim

Keadaan iklim di daerah pengamatan menurut klasifikasi iklim menurut Koppen termasuk kedalam iklim tropika basah (Aw), artinya, jumlah hujan pada bulan basah mengimbangi kekurangan air pada bulan kering.

Sedangkan tipe iklim daerah pengamatan menurut klasifikasi iklim menurut Schmidt dan Ferguson, termasuk kedalam iklim golongan B yaitu basah (0,143<9<0,333).  Klasifikasi iklim menurut Schmid dan Ferguson dapat dicari dengan mencari nilai Q.  Nilai Q merupakan perbandingan antara jumlah rata-rata bulan kering dengan rata-rata bulan basah.  Dari data curah hujan rata-rata di kecamatan Bayat tahun 1988-1997 (lihat tabel), maka dapat diketahui jumlah rata-rata bulan kering adalah 39,467, dan jumlah rata-rata bulan basah adalah 260,482 sehingga dapat diperoleh nilai Q sebesar 0, 1515.

1.      Temperatur

Data temperatur di daerah penelitian tidak tersedia lengkap, sehingga untuk menentukan temperatur tahunan rata-rata (T) diperkirakan dengan menggunakan rumus seperti berikut :

T = 26,3°C – 0,61 h                (Sitanala Arsyad)

Rumus tersebut menunjukan bahwa temperatur udara suatu tempat pada daerah tropis dipengaruhi oleh ketinggian letak suatu tempat dari permukaan air laut (h dalam hm) yaitu untuk kenaikan 100 m temperatur udara turun rata-rata di daerah pantai (0 m dpal). Berdasarkan rumus tersebut dan dengan melihat topografi daerah penelitian yang menpunyai ketinggian maksimum 265 m dpal dan ketinggian minimum 104 dpal, maka dapat ditetapkan temperatur tahunan rata-ratanya berkisar antara 24,63°C sampai 25,67°C.

  1. Curah hujan

Daerah pengamatan seperti halnya daerah-daerah lainnya di Pulau Jawa yang dipengaruhi oleh angin Muson Tenggara yang bertiup antara bulan juli sampai bulan Oktober dan angin Muson Barat Laut yang bertiup antara bulan November sampai bulan April. Angin Muson Tenggara bersifat kering sedangkan Angin Muson Barat Laut bersifat basah yang menyebabkan terjadinya musim hujan.

Penentuan tipe curah hujan di daerah pengamatan didasarkan pada klasifikasi Schmidt dan Ferguson, dengan menghitung harga Q yang kriterianya seperti disajikan pada tabel.

Berdasarkan perhitungan pada tabel, maka diperoleh nilai Q = 5,6 / 6,3 atau 0,889 yang termasuk dalam klasifikasi tipe hujan sedang.

 

C.    Litologi / batuan

Di daerah Bayat memiliki jenis batuannya adalah batuan diorit. Hal tersebut juga berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh tim kerja lapangan 3 fakultas geologi UGM tahun 1985 litologi daerah penelitian mempunyai 5 satuan batuan yaitu satuan sekis, filit, satuan batugamping, numelit, satuan mikrodiorit, satuan batugamping foraminifera dan satuan endapan lempung pasiran.

a.    Satuan Sekis Filit

            Satuan sekis filit tersusun oleh sekis, filit, milonit, dan lensa mamer. Batuan ini tersingkap di Gunung Sari, Gunung Budo, Gunung Konang, Gunung Semanu, Gunung Joko Tuwo. Batuan ini menempati wilayah seluas 1.118,875 ha atau 25,46% dari daerah penelitian

b.    Satuan batugamping numelit

            Satuan ini tersusun oleh batugamping numelit, batugamping kuarsa, konglomerat dan batulempung. Persebaran batuan ini terdapat di puncak Gunung Cakaran, Gunung Jabalkat, Dusun Padasan, dan Dusun Gampingan di lereng timur Gunung Pendul. Batuan ini menempati wilayah seluas 52,420 ha atau 1,3205 dari daerah penelitian.

c.    Satuan mikrodiorit

            Satuan ini tersusun oleh batuan beku mikrodiorit. Batuan ini tersingkap di lereng Gunung Pendul. Satuan ini menempati daerah seluas 143,7750 ha atau 3,65% dari daerah penelitian.

 

 

d.   Satuan batugamping foraminifera

            Satuan ini tersusun oleh batugamping berlapis dengan tuff dan lempeng tuff. Batuan ini tersingkap di lereng Gunung Tugu, Gunung Kampak, Gunung Jetho, Gunung Temas, Gunung Lanang, dan Gunung Batilan. Satuan ini menempati wilayah seluas 577,5 ha atau 14,66% dari daerah penelitian.

e.    Satuan endapan lempung pasiran

            Satuan ini terbentuk sebagai hasil proses sedimentasi. Endapan ini terdapat pada bentuk lahan dataran alluvial, kipas alluvial dan tanggul alam. Satuan ini menempati wilayah 2.047,875 ha atau 52,02% dari daerah penelitian.

Keadaan litologi pada sample I dan II masih banyak terdapat batuan dengan ukuran dan bentuk yang sangat beragam variasinya (heterogen), baik pada permukaan maupun pada penampang lereng.  Formasi geologi pada sampel I dan II termasu formasi geologi mikro diorit dengan ukuran di dominasi oleh Bongkah.

Sedangkan kondisi litologi pada sampel III, batuannya didominasi oleh kerikil.  Formasi geologi pada sample III adalah Alluvium.  Dengan demikian terdapat perbedaan antara  titik sample I dan III dengan titik sample III dalam hal kualitas, kuantitas, maupun jenis dan ukurannya.

D.    Geomorfologi

      Keadaan geomorfologi di daerah penelitian tidak dapat terlepas dari aspek bentuklahan dan proses geomorfologinya yang berkaitan dengan evolusi pertumbuhan bentuklahan serta hubungan antara bentuklahan dengan unsur bentang lahannya.

a.    Bentuklahan

      Di daerah penelitian terdapat beraneka ragam bentuklahan. Hal  karena perbedaan struktur geomorfologi, proses geomorfologi dan faktor topografi. Perbedaan ketiga faktor tersebut menghasilkan 2 bentuklahan asal proses yaitu proses fluvial dan denudasional. Berdasarkan 2 bentukan asal proses itu selanjutnya dapat dibagi menjadi 9 satuan bentuklahan. Bentuklahan asal proses fluvial dibedakan menjadi dataran alluvial rata, dataran alluvial berombak, dataran banjir, tanggul alam, kipas alluvial dan rawa, sedang bentuklahan bentukan asal proses denudasional dibedakan menjadi Perbukitan Tertoreh Sedang, lereng kaki Perbukitan Tertoreh Sedang dan Bukit Sisa Tertoreh Sedang.

b.      Proses Geomorfologi

            Proses geomorfologi adalah semua perubahan fisika dan kimia yang mempengaruhi modifikasi permukaan bumi.  Proses geomorfologi ini terjadi karena adanya tenaga geomorfologi yaitu setiap medium alam yang mampu mengikis dan mengangkut material bumi (air, angin, ombak, gelombang, dan arus), (Thornbury, 1969). Proses tersebut akan dipercepat oleh tenaga gravitasi bumi yang bukan termasuk tenaga geomorfologi. Proses-proses geomorfik akan meninggalkan bekas-bekas yang nyata pada bentuk lahan dan setiap proses geomorfik yang berkem-bang akan mempunyai karakteristik bentuklahan tertentu.

            Pada  daerah penelitian dijumpai proses geomorfologi yang terdiri dari proses erosi, prose sedimentasi, dan proses longsor lahan. Proses erosi terjadi pada satuan bentuklahan asal proses denudasional. Erosi yang terjadi di tempat ini pada tingkat sedang. Alur-alur pengikisan ini berkembang menjadi anak Sungai Dengkeng yang ciri-cirinya antara lain : gradien sungai besar, panjang alur sungai pendek, erosi vertikal dominan, lembah membentuk huruf V dan arah aliran lurus. Berdasarkan ciri-ciri tersebut maka alur sungai yang terbentuk termasuk t masih muda.

            Bentuklahan asal proses fluvial sebagai media terjadinya proses sedimentasi yang merupakan hasil proses erosi. Proses sedimentasi ini akan berakibat pula pada pendangkalan alur-alur sungai, sehingga pada musim penghujan terjadi banjir.

            Proses longsor lahan akan dipengaruhi oleh litologi, struktur geologi dan geomorfologi, topografi, tanah dan vegetasi. Bahaya longsor lahan di daerah penelitian dijumpai pada tebing yang curam dan lereng curam yang terpotong oleh jalan. Di samping itu, di Gunung Jabalkat dan Gunung Sari bagian timur dijumpai proses gerakan tanah.

E.     Hidrologi

Kondisi hidrologi di daerah Bayat ini terdapat perbedaan antara titik sample satu dengan yang lain.  Parameter hidrologi yang digunakan meliputi tingkat drainase, irigasi, pasokan air. Pada daerah penelitian memiliki tingkat drainase yang bermacam-macam tergantung dari topografinya, misal pada daerah alluvial memiliki drainase yang baik karena air hujan yang jatuh sebagian menjadi run off sebagian menjadi air tanah sedangkan irigasi pada daerah alluvial dan grumusol menggunakan irigasi setengah teknis. Pasokan air utama dari daerah penelitian adalah air hujan. klasifikasi iklim menurut Koppen daerah penelitian memiliki iklim tropik basah (AN) sehingga jumlah curah hujan pada bulan-bulan basah bisa seperti bulan–bulan kering. Wilayah penelitian berada pada kemiringan lereng kelas satu atau datar (0-4%), yaitu seluas 2231,8875 ha atau 52,02%.

Titik sample I dan II pada daerah penelitian, kondisi air tanahnya termasuk dalam (pada musim kemarau), karena topografinya yang berupa perbukitan dan tanahnya didononasi oleh tekstur pasir, yang tidak mampu mengiakat air.  Pada musim kemarau, tanahnya sangat kering sedangkan pada musim hujan tanahnya menjadi lembek.

Pada titik sample ke III, air tanahnya lebih dangkal daripada titik sample I dan II.  Salah satu sebabnya adalah letak sample ke III terletak pada dataran yang lebih rendah daripada sample I dan II, maka air tanah cukup mudah diperoleh di sini, sehingga di daerah titik sample III vegetasinya lebih beragam, dan dapat ditanami padi (padi membutuhkan air cukup banyak untuk dapat tumbuh baik)

F.     Tataguna Lahan

Pengguanaan lahan pada daerah Bayat ini cukup bervariasi. Tidak ada perbedaan yang mencolok, terutama pada titil pengamatan I dan II.  Secara umum, penggunaan lahan di daerah ini berupa tegalan, sawah, hutan dan permukiman.   Kebanyakan, sistem pengelolaan lahan di sini masih memakai sistem tradisional (menggunakan cangkul).  Sistem pengairannya menggunakan sistem tadah hujan dan sebagian dengan sistem irigasi teknis (pada daerah pengamatan III). Untuk menjaga kesuburan tanah, para petani menggunakan pupuk kandang, kompos, dan ada juga yang menggunakan pupuk pabrik.

 Penggunaan merupakan cerminan dari interaksi antara aktivitas manusia terhadap lingkungan alam yang bersifat dinamis, dalam arti mudah berubah-ubah dari waktu ke waktu dan akan berkembang sesuai dengan dan kebutuhan.

      Pengamatan ini dilakukan berdasarkan aspek bentukahan, litologi, kemiringan lahan, macam tanah, dan penggunaan lahan. Satuan lahan di daerah penelitian didominasi oleh bentuklahan dataran aluvial datar (F1), tanah asosiasi vertic ustroprepts dengan typc pellusterts (F0/TP), litologi endapan lempung pasiran (Lp), dan kelas lereng datar sampai agak miring (I).  Sedangkan tiap satuan lahan dijelaskan sebagai berikut :

1)      Dataran alluvial datar endapan lempung pasiran asosiasi vertic ustropepts dengan typc pellusterts. Kemiringan lereng 0-4 % untuk permukiman.

            Satuan lahan ini terbentuk dari hasil pengendapan dari tempat yang diatasnya sehingga jenis tanahnya juga merupakan hasil akumulasi dari beberapa bahan induk, yaitu tanah asosiasi vertic ustroprepts dengan asosiasi typc pellusterts.

      Daerah ini memiliki topografi datar sampai agak miring, memiliki kemiringan lereng 0 - 4 %. Lahan ini dimanfaatkan sebagai pemukiman yang tersebar merata di daerah penelitian yaitu Desa Wiro, Desa Talang, Desa Banyuripan, Desa Beluk, Desa Dukuh, Desa Ngerangan, Desa Jambakan, dan Desa Tegalarejo. Satuan ini meliputi areal seluas 370,125 ha (9,59%) dari luas daerah penelitian.

2)      Dataran alluvial datar endapan lempung pasiran asosiasi vertic ustroprepts dan typc pellusterts.  Pada lahan yang kemiringan lerengnya sebesar 0-4 %  kebanyakan digunakan untuk tegalan.   Jenis tanamannya berupa palawija.

3)      Dataran alluvial datar endapan lempung pasiran asosiasi vertic ustroprepts dan typc pelluterts.  Lahan dengan kemiringan lereng 0- 4 % digunakan untuk sawah tadah hujan.

Pada lahan ini jenis tanamannya adalah padi pada musim hujan dan palawija pada musim kemarau. Hal itu disebabkan karena ketergantungannya terhadap persediaan air yang didapat dari air hujan. Penyebaran satuan lahan ini menempati areal seluas 687.625 ha (17,44%).

4)      Dataran alluvial dataran lempung pasiran, asosiasi vertic ustropepts dengan typic pellusterts. Kemiringan 0- 4 %, digunakan untuk sawah irigasi.

Yang membedakan satuan lahan ini dengan satuan lahan nomor satu, dua dan tiga adalah penggunaan lahannya untuk sawah irigasi. Satuan lahan ini terdapat disekitar Rawa Jombor sehingga persediaan airnya memungkinkan untuk menanam padi dua kali dalam setahun. Satuan lahan ini menempati areal seluas 130 ha (3,30%).

5)      Dataran alluvial berombak sekis-filit, typic hablumbrepts kemiringan lereng 4-8% untuk pemukiman

Satuan lahan ini terbentuk dari proses pengendapan batuan induknya yaitu sekis-filit, sehingga macam tanah pada lapisan ini typic haplumbrepts. Daerah ini mempunyai kemiringan lereng 4-8% dengan jenis penggunaan lahannya adalah pemukiman. Letak satuan lahan ini berada pada lereng bagian bawah dari Gunung Konang, Tumpeng, Jabalkat, Butak, Kebo, dan Gunung Sari. Luas keseluruhan adalah 39,875 ha (8,36%).

6)      Dataran alluvial batugamping foraminifera, litic ustrohents kemiringan lereng 4-8%, digunakan untuk tegalan.

Satuan lahan ini sama dengan satuan lahan nomor lima yang membedakannya adalah terjadinya di atas batuan gamping foraminifera sehingga macam tanahnya adalah litic ustrihents.  Satuan lahan ini tersebar di lereng tenggara Gunung Temas dengan luas 12,125 ha (0,31%).

7)      Dataran alluvial berombak batugamping numulic, litic ustrohents kemiringan lereng 4-8%, digunakan untuk pemukiman.

Satuan lahan ini sama dengan satuan lahan nomor lima yang membedakan adalah terjadinya di atas batugamping numulit, sehingga tanahnya litic ustrohents. Satuan lahan ini terdapat di Dusun Gamping Gedhe dengan luas secara keseluruhan 23,875 ha (0,61%).

8)      Dataran alluvial mikrodiorit, tanah litic ustrohents dengan kemiringan lereng 4-8% untuk tegalan.

Satuan lahan ini sama dengan satuan lahan nomor lima yang membedakannya adalah terjadinya di atas batuan mikrodiorit. Satuan lahan ini terdapat di lereng selatan Gunung Pendul meliputi areal seluas 47,75 ha (1,21%).

9)      Dataran alluvial batugamping foraminifera, litic ustrohents dengan kemiringan lereng 4-8% untuk pemukiman.

            Satuan lahan ini sama dengan satuan lahan nomor enam yang membedakannya adalah jenis pemanfaatannya untuk pemukiman. Lahan ini terdapat di Dusun Temas dengan areal 6,357 ha (0,16%).

10)  Dataran alluvial sekis-filit, typic haplumberts kemiringan lereng 4-8% untuk tegalan.

Satuan lahan ini sama dengan satuan nomor lima yang membedakan adalah pemanfaatannya untuk tegalan. Lahan ini terdapat di lereng Gunung Tumpel dan lereng Gunung Semanu dengan luas keseluruhan 21,625 ha (0,55%).

11)  Kipas alluvial dengan endapan lempung pasiran, typic pellusterts 0-4% untuk pemukiman.

            Satuan lahan ini terdapat di selatan daerah penelitian yang terdapat di tiga desa yaitu Desa Jarum, Nengahan, dan Bogem. Lahan ini berupa pemukiman dengan luas keseluruhan 139,625 ha (3,54%). Lahan ini berasal dari proses pengendapan yang asalnya dari satu sumber yaitu Sungai Papah untuk Desa Bogem dan Nengahan, Sungai Trembo untuk Desa Jarum.

12)  Kipas alluvial endapan lempung pasiran, typic ustifluvents kemiringan lereng 0-4%, digunakan untuk tegalan, dengan luas areal 186,750 ha (4,74%).

13)  Tanggul alam endapan lempung pasiran, typic ustifluvents kemiringan lreng 0-4% untuk sawah tadah hujan.

            Satuan lahan ini terjadi dari proses pengendapan material sungai ke kanan kiri yang terjadi waktu banjir sehingga membentuk pola memanjang dengan luas areal 25,50 ha (0,4%).

14)  Tanggul alam endapan lempung pasiran, typic ustifluvents kemiringan lereng 0-4% untuk sawah tadah hujan.

Satuan lahan ini sama dengan satuan lahan nomor tiga belas yang membedakannya adalah jenis penggunaan lahannya untuk sawah tadah hujan dengan luas areal 66,00 ha (1,67%).

15)  Tanggul alam endapan lempung pasiran, typic ustipsamments kemiringan lereng 0-4%, digunakan untuk pemukiman.  Macam tanahnya yaitu typic ustipsamments sehingga tanah pada satuan lahan ini berupa pasir (banyak mengandung pasir) lahan ini terdapat di Dusun Jalen dengan luas 27,500 ha (0,70%).

16)  Dataran banjir dengan endapan lempung pasiran aquid ustifluvents kemiringan lereng 0-4% digunakan untuk sawah tadah hujan.

            Satuan lahan ini juga terjadi dari hasil pengendapan material sungai. Materialnya lebih halus dan letaknya lebih rendah sehingga sering tergenang air. Lahan ini menempati areal seluas 147 ha (3,73%).

17)  Dataran banjir endapan lempung pasiran, aquid ustifluvents kemiringan lereng 0-4% untuk sawah tadah hujan.  Lahan ini mempunyai luas 45,25 ha (1,15%).

18)  Rawa endapan lempung pasiran, aquid ustifluvents kemiringan lereng 0-4%.

            Merupakan suatu cekungan yang terbentuk karena proses tektonik,  namun sekarang yang dominan adalah proses pengendapan. Pada saat ini rawa tersebut dikembangkan menjadi obyek wisata.  Lahan ini memiliki luas 116,5 ha (2,95%).

19)  Perbukitan denudasional sekis-filit litic usrohents kemiringan lereng 35-45% untuk hutan.

Satuan lahan ini merupakan hasil proses geomorfologi yang bekerja pada batuan induk. Proses yang dominan pada satuan lahan ini adalah erosi.  Hal ini dikarenakan oleh topografinya yang curam (35-45%). Batuan induk yang tererosi pada lahan ini adalah batuan sekis-filit yang persebarannya berada pada puncak Gunung Jabalkat, Cakaran, Sari dan Konang dengan luas areal 144,375 ha (3,66%).

20)  Perbukitan denudasional sekis-filit litic ustrohents kemiringan lereng 35-45% untuk tegalan.

            Lahan ini terdapat di Gunung Jabalkat dan cakaran dengan luas areal 36,625 ha (0,93%).

21)  Perbukitan denudasional sekis-filit litic ustrohents kemiringan lereng 25-35% untuk hutan.

            Lahan ini terdapat di Gunung Kebo dan Lereng Gunung Sari dengan luas areal 141, 635 ha ( 3, 59 % )

22)  Lereng kaki perbukitan denudasional batugamping foraminifera litic ustrohents kemiringan lereng 8 – 15 %, digunakan untuk hutan.

            Pada satuan lahan ini proses erosi sangat dominan. Meskipun pada kemiringan lereng 8 – 15 % tetapi karena terjadi pada batuan yang resisten maka pada batuan ini sering muncul batuan yang terlapukkan. Oleh sebab itu lapisan tanahnya tipis, hanya pada daerah-daerah tertentu terdapat tanah. Lahan ini berada pada Gunung Tabu dan Temas dengan luas keseluruhan 189, 125 ha ( 4, 80 % ).

23)  Perbukitan denudasional batugamping numulic litic ustrohents kemiringan lereng 25 – 35 %.

            Batuan induknya yaitu batugamping numulit. Bentuk penggunaan lahan pada satuan ini adalah hutan.

G.    Praktek Konservasi Tanah

Bentuklahan didaerah pengamatan terutama di daerah perbukitan (titik pengamatan I dan II), sebaiknya usaha yang dikembangkan adalah budidaya hutan dan tegalan.  Dengan cara menghutankan perbukitan yang ada, maka tingkat kesuburan tanahnya dapat dipertahankan, hutan juga dapat menyimpan air, dan sekaligus untuk memimalisir terjadinya bencana erosi.

Keberadaan konversi tanah yang telah diusahakan dicatat sebagai bahan informasi yang diperlukan untuk perencanaan dan implementasi program- program konservasi tanah. Informasi mengenai upaya-upaya konservasi tanah yang ada untuk masing-masing satuan inventarisasi meliputi : (a) macam teras, (b) persentase satuan peta yang di teras, (c) persentase dinding terus (riser) dengan berumput permanen, dan (d) kondisi teras.

      Sebagian besar daerah penelitian mempunyai tipe teras bangku datar dalam kondisi sedang sampai baik kecuali pada satuan lahan kecuali pada satuan lahan Gunung Pendul, Gunung Konan, Gunung Butak, Gunung Kebo. Gunung Bugel dalam kondisi tersanya sudah jelek karena kurang perawatan. Hal ini juga karena tingkat kesulitan terus pada satuan–satuan lahan tersebut yang berada pada jenis batuan batugamping foraminifera, batugamping numulit dan mikrodiorit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Faktor Pembentuk Tanah

Tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas yang menduduki sebagian besar permukaan bumi dan mempunyai sifat–sifat sebagai pengaruh iklim dan organisme yang bekerja terhadap batuan induk pada relief tertentu dan  dalam jangka waktu tertentu serta mampu menumbuhkan tanaman (M. Isa Darmawijaya, 1990)

Pembentukan tanah dipengaruhi lima faktor yang bekerja sama dalam berbagai proses, baik reaksi fisik maupun kimia. Semula yang dianggap sebagai faktor pembentuk tanah hanyalah bahan induk, iklim dan makhluk hidup. Setelah diketahui ternyata tanah terus berkembang, maka faktornya ditambah dengan faktor waktu. Topografi yang mempengaruhi air dalam tanah dan erosi juga merupakan faktor pembentuk tanah (Hardjowigeno, Sarwono 1993 ).

Menurut Jenny ( 1946 ), korelasi di antara sifat–sifat tanah dan faktor–faktor genesa tanah dengan rumus sebagai berikut :

            S = f. ( i,h,b,t,w…..)

Keterangan :

S          = tiap sifat tanah seperti kadar lempung, pH tekstur dan lain lain

i           = iklim

h          = makluk hidup

b          = bahan induk

t           = topografi

w         = waktu

      Jadi ada 5 faktor yang mempengaruhi proses pembentukan tanah yaitu iklim, bahan induk, makhluk hidup, topografi, dan waktu.

1.      Iklim

Iklim adalah keadaaan cuaca pada waktu yang relatif lama (kurun waktu nya 30 tahunan

            Komponen iklim yang utama yaitu curah hujan dan temperatur. Kedua komponen ini saling mempengaruhi pembentukan tanah melalui proses pelapukan fisik maupun kimiawi.

2.  Bahan Induk

            Bahan induk berpengaruh sekali pada proses pembentukan tanah, yaitu berpengaruh pada sifat-sifat fisika dan kimia tanah (tekstur, struktur, dan keasaman, kandungan Ca dan lain-lain). Tanah yang memperlihatkan sifat-sifat (kimia) yang sama dengan bahan induknya digolongkan dalam tanah-tanah endodynamomorf. Sedangkan tanah-tanah lainnya yang memperlihatkan sifat-sifat yang lain dari bahan induk asalnya digolongkan dalam tanah-tanah ectodynamomorf.

3.  Organisme /Makhluk hidup

            Semua makhluk hidup berpengaruh terhadap pembentukan tanah baik itu yang masih hidup maupun yang sudah mati. Vegetasi memiliki pengaruh langsung terhadap pembentukan tanah karena biasanya vegetasi bertempat kedudukan tetap dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan manusia dan hewan berpengaruh secara tidak langsung pengelolaan lahan, vegetasi dan lain-lain.

a.  Jasad renik (microorganisme) dalam tanah mempunyai peranan penting dalam proses-proses sebagai berikut:

b.   Dekomposisi sisa-sisa jasad makhluk hidup yang dapat dibedakan menjadi:

- Dekomposisi cellulose dan hemicellulose

-    Dekomposisi karbohidrat

-    Dekomposisi protein

-    Dekomposisi lignine

-    Dekomposisi lemak

c.       Pembentukan humus (humification) dan pemecahan humus (mineralisation).

d.      Peredaran nitrogen (N) dalam tanah berupa : nitrifikasi, detrifikasi, amonifikasi, dan fiksasi N. 

e.       Perubahan bentuk unsur-unsur lain seperti : sulfur, phospor, Fe, K, Ca, dan Se. 

f.       Homogenitas bahan-bahan dalam tanah.

Hewan besar yang bergerombol dan membentuk kelompok-kelompok dapat berpengaruh dalam pembentukan tanah. Terdapat 3 sifat dari pengaruh tersebut :

1.      membuang kotorannya sepanjang jalan yang dilaluinya.

2.      Secara tidak langsung memindahkan tumbuh-tumbuhan (biji-bijian, buah)

3.      Dapat merubah sifat dan keadaan tanah yang ditempatinya atau dilaluinya.

g. Manusia mempengaruhi pembentukan tanah melalui cara penggunaan lahan, dan cara mengolah tanah.

4.      Topografi

            Keadaan topografi dapat mempengaruhi proses pembentukan tanah. Topografi dapat mempercepat ataupun memperlambat proses tersebut. Suatu saerah yang bertopografi perbukitan akan mempercepat proses pembentukan dan perkembangan tanah daripada daerah yang datar. Daerah yang miring (berbukit-bukit) akan mempermudah terjadinya erosi sehingga mempercepat pelapukan fisik dan kimia oleh air yang melewatinya.

            Di daerah dataran sering terdapat cekungan yang menampung air, karena air menggenang dan tidak mengalir sehingga membentuk tanah rawa di daerah humid dan Wiesenboden di daerah humid dan semi arid.

            Arah lereng berhubungan dengan  intensitas sinar matahari serta tiupan angin. Hal ini sangat penting dalam membentuk jenis vegetasi dan tanah yang berbeda. Tanah yang sedikit memperoleh sinar matahari, proses pelapukannya menjadi lambat.

5.      Waktu

      Faktor lama waktu pelapukan dan perkembangan tanah mempengaruhi tanah yang terbentuk. Semakin lama proses pelapukan terjadi maka tanah akan cepat berkembang.

      Berdasarkan susunan horisonnya, tanah dibagi menjadi:

a.       Tanah yang masih berupa bahan induk

b.      Tanah muda.  Baru mulai proses pedogenesisnya, baru terdiri atas dua horison.

c.       Tanah dewasa.  Telah terjadi proses pelapukan secara lanjut dan sudah terjadi proses pelindihan.  Horison yang terbentuk adalah horison A, B, dan C

d.      Tanah tua.  Telah terjadi proses pelapukan lanjut dan proses pelindihan telah mencapai maksimum

Kelima faktor tersebut saling berpengaruh, namun tidak dapat dipastikan seberapa besar pengaruhnya.  Oleh karena itu para ahli hanya memilih faktor-faktor yang dominan dan tetap mengetahui seberapa besar pengaruh tersebut dalam pembentukan tanah.

B.     Diskripsi Kualitas dan Sifat Tanah

Keadaan tanah di daerah penelitian sperti yang dikemukakan Dames (1995) menurut hasil penelitian yang pernah dilakukan beliau meliputi :

1.      Tanah Komplek Lateritik

Berdasarkan warna, tekstur, dan bahan induk, tanah ini dibagi menjadi 5 (lima), yaitu:

-          Tanah berwarna kuning sampai merah kekuningan.  Mempunyai arti; solum dangkal, sangat banyak mengandung kuarsa dari ukuran pasir dan kerikil pada lapisan merah kekuningan dari anglomerat kuarsa.

-          Tanah berwarna kuning.   Mempunyai solum dangkal, tekstur pasir dan pelapukan batuan induk diorit.

-          Tanah berwarna kelabu kekuningan muda (cerah).  Solum tanah sangat dangkal, dari batuan lempung (shales) yang mengandung silikat.

-          Tanah berwarna coklat kemerahan.  Solum tanah dangkal, dari batuan pasir kuarsa

-          Tanah berwarna kemerahan dari batuan klorit sekis

2.      Tanah Margalitik

Jenis tanah ini bertekstur geluh berlempung sampai lempung berat, struktur granuler, gumpal pejal, konsistensi dalam keadaan basah lekat dan plastis.  Dalam keadaan kering sangat keras dan retak-retak.  Mempunyai bahan induk batu gamping, mergel, batu lempung gampingan dan tuf.

3.      Tanah Pasir Abu Vulkanik Muda Kelabu

Jenis tanah ini mempunyai bahan induk sebagai hasil erupsi gunung api Merapi muda yang mempunyai jenis mineral augit, hiperstini, andesin, hornblende dan magnetit, sifat tanah jenis ini adalah berupa tekstur pasir bergeluh, struktur remah, konsistensi gembur,  permeabilitas tinggi, kaya unsur hara, antara lain ; P2O5, K2O, Ca dan Mg.

4.      Tanah Aluvial Kelabu

Tanah jenis ini merupakan tanah yang masih muda.  Terbentuknya lapisan-lapisan tanah karena perbedaan pengendapan.  Sifat-sifat tanah tersebut antara lain: warna tanah kelabu, tekstur geluh berlempung, struktur mantap, konsistensi lekat, permeabilitas lambat, drainase jelek.  Pada tempat-tempat yang tergenag air, terbentuk horison glei, sehingga terbentuk tanah aluvial gleik. (Jamulya dkk, 1992).

 

 

 

 

 

 

D.    Pembahasan

 

      Pelaksanaan penelitian bertempat di Desa Banyuripan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten yang secara administratif dibatasi oleh :

Sebelah Utara                    : berbatasan dengan Gunung Gajah dan Desa Kebon

Sebelah Timur                   : berbatasan dengan Desa Dukuh

Sebelah Selatan                 : berbatasan dengan Desa Jarum

Sebelah Barat                    : berbatasan dengan Desa Beluk, Desa Kebon, Desa Nengahan

      Di tempat penelitian ini telah dibuat 3 titik profil tanah dengan lokasi yang berbeda untuk diambil sampel dan diteliti. Lebih lanjut akan dijelaskan mengenai diskripsi umum dan diskripsi morfologi tanah pada masing-masing titik pengamatan profil tanah.

1.      Titik Pengamatan Profil Tanah I / No Lapangan : 1 / I / KL I

            Letak pengambilan sampel profil tanah I berada di perbukitan Gunung Pendul, Gunung Gajah dengan ketinggian 165 meter dari permukaan air laut. Secara astronomis titik pengamatan profil tanah I terletak di 07o46’ 25,3” S dan 110o40’18,4” S.

            Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan penduduk sekitar, keadaan cuaca daerah penelitian pada hari pengamatan adalah cerah, sedangkan pada hari sebelumnya hujan.

            Bentuk lahan pada titik pengamatan I ini berupa Perbukitan Pendul, yang berasal dari pelapukan batuan diorit, dan secara geologis termasuk dalam formasi Perbukitan Jiwo. Secara mikro memiliki panjang lereng 21 meter. 

            Jenis vegetasi yang ada pada daerah penelitian ada dua yaitu vegetasi asli (akasia dan semak) dan vegetasi buatan (ketela pohon, kacang tanah, jati dan lain-lain). Kenampakan vegetasi yang dominan adalah ketela pohon, jati, akasia, dan kacang tanah sedangkan secara spesifik tidak ada. Vegetasi ini merupakan hasil budidaya oleh penduduk sekitar. yang dikelola secara tradisional, karena sumber air berasal dari curah hujan.

Berikut diskripsi morfologi tanah pada titik pengamatan I:

A.    Lapisan I

a.       Adalah horison A, yaitu merupakan horison mineral paling atas yang merupakan ciri-ciri terjadinya proses elluviasi atau proses pencucian (pelindian) unsur-unsur hara, partikel-partikel lempung, dan bahan organik dari tanah permukaan (top soil) menuju pada tanah (sub soil).

b.      Kedalaman lapisan I ini antara 0-2,5 cm.

c.       Batas kejelasan horison pada lapisan I adalah jelas (clear) dengan bentuk topografi batas perubahan perlapisan jelas (smooth).

d.      Warna tanah pada lapisan ini adalah 10 YR 5/6 kuning kecoklatan (Yellowish Brown), dapat diketahui menggunakan buku Munsell.

e.       Tekstur pada lapisan ini mengandung fraksi pasir bergeluh (sand loam).

f.       Struktur tanah pada lapisan ini lemah (weak) yang artinya pedon-pedon yang terbentuk sangat lemah sehingga jika ditekan mudah hancur menjadi pecahan yang lebih kecil. Sedangkan tipe struktur pada lapisan ini termasuk dalam tipe remah (crumb) dimana butir-butir tanahnya saling mengikat seperti irisan roti.

g.      Konsistensi pada lapisan I ini dapat dibedakan dalam 2 keadaan, yaitu:

§ Keadaan basah : lapisan ini termasuk ke dalam konsistensi agak lekat (slighty sticky), dimana tanah tertinggal pada salah satu jari.

§ Keadaan lembap : lapisan ini memiliki konsistensi sangat gembur (very friable) yang mudah hancur jika dipijit.

h.    pH tanah pada lapisan ini didapatkan dengan melakukan beberapa cara, yaitu :

§ Dengan menggunakan pH meter, didapat pH potensial 5,1

§ Dengan H2O didapatkan pH aktual 4,5

i.      Pada lapisan ini perakaran yang ada tergolong halus dengan jumlah akar sedikit.

j.      Reaksi terhadap H2O2 berbuih banyak berarti mengandung bahan organik yang banyak.

k.    Reaksi terhadap HCl tidak berbuih berarti tidak mengandung kapur.

l.      Reaksi terhadap a dipiridin tidak berbuih berarti drainase baik.   Tidak terdapat bercak (glei).

B.     Lapisan II

a.       adalah lapisan horison C dengan kedalaman 2,5 – 10 cm.

b.      Batas kejelasan lapisan ini jelas (clear), tebal atas lapisan-nya antara 2 – 5 cm. Sedangkan bentuk batas perlapisannya adalah rata (smooth).

C.     Lapisan III

Untuk lapisan ke III hingga kedalam adalah lapisan horison R, yang berupa batuan induk, bersifat keras.

            Kemudian dapat digambarkan profil tanah pada titik pengamatan profil tanah ini, sebagai berikut :

                                  0 cm

                                                                                    Horison A

                                     2,5 cm

 

                                                                                    Horison C

                                    >10 cm                                    Horison R

 

Gambar 1. gambar titik profil tanah

Berdasarkan ciri-ciri yang telah dikemukakan di atas, profil tanah I merupakan jenis tanah Litosol, yaitu tanah dangkal di atas batuan keras dengan ketebalan tanah kurang dari 20 cm di atas batuan induknya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


                                    Gambar 2. Foto titik profil tanah I

 

Gambar 3. Foto penggunaan lahan pada titik profil tanah I

 

Gambar 4. foto perakaran pada titik profil tanah I

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5. foto pengukuran pH dengan pH stik pada profil tanah I

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                Gambar 6.  Pengukuran pH dengan pH meter

  1. Titik Pengamatan Profil Tanah II / No. Lapangan : 2 / I / KL I

            Letak pengamatan dan pengambilan sampel pada profil tanah II berada pada lereng tengah Perbukitan Pendul, dengan ketinggian 139 meter dari permukaan air laut. Secara astronomis terletak pada 07o46’26,9” S dan 110o40’21,8” E.

            Berdasarkan pengamatan, cuaca di sekitar daerah penelitian agak mendung sedangkan hari sebelumnya hujan. Iklim yang ada bertipe Am dan memiliki curah hujan yang sama dengan titik pengamatan profil tanah I. (Yadimin, 1998).

            Bentuklahan pada titik pengamatan profil tanah II ini berupa lereng tengah, yang berasal dari proses sedimentasi residual dan termasuk pada formasi geologi Perbukitan Jiwo.

            Jenis vegetasi yang tampak pada daerah penelitian, bukan merupakan vegetasi asli, karena berasal dari hasil budidaya penduduk sekitar. Secara dominan, vegetasi yang ada adalah jati, sedangkan spesifik tidak ada tetapi terdapat tanaman yang lain seperti mahoni, akasia, jagung, dan lain – lain

            Berdasarkan pengamatan, lama penggunaan lahan sekitar 10 tahun, dengan pola tanam sistem tumpang sari, yang menggunakan air hujan sebagai sumber pengairannya.

            Keadaan air tanahnya kurang baik, dibuktikan dengan jarang terdapat sumur di sekitarnya.

            Berikut diskripsi morfologi profil tanah pada titik pengamatan II.

A.  Lapisan I

a.    Adalah horison A, yaitu merupakan horison tanah yang berasal dari proses transportasi (residual).

b.    Kedalaman lapisan ini antara 0-20 cm.

c.    Batas kejelasan horisonnya adalah tegas (abrupt) dengan bentuk topografi perbatasan perlapisan berombak (weavy).

d.   Untuk warna tanah pada lapisan ini adalah 10 YR 4/6 dengan warna coklat (brown) yang didapat dari pencocokan dengan buku Munsell.

e.    Tekstur pada lapisan ini mengandung fraksi tanah lempung berpasir (clay sand).

f.     Derajat struktur tanahnya kuat, artinya agregat-agregat tanah sangat jelas dan satu sama lain mudah dipisahkan. Sedangkan tipe struktur tanahnya membentuk gumpal bersudut (angular blocky).

g.    Konsistensi pada lapisan ini dapat dibagi ke dalam 2 keadaan, yaitu :

S Keadaan basah : termasuk sticky, artinya lekat dan tertinggal pada kedua jari.

S Keadaan lembap : termasuk teguh artinya dengan ditekan tanpa tenaga yang kuat pecah menjadi agregat yang lebih kecil, masa tanah menggumpal.

h.    pH pada lapisan ini diperoleh dengan beberapa cara, yaitu :

a. Dengan pH meter, pH potensialnya adalah 4,5

b.Dengan H2O diperoleh pH aktualnya adalah 5,5

i.      Reaksi tanah terhadap larutan H2O2 adalah berbuih banyak. Hal ini berarti bahwa tanah ini mengandung bahan organik yang banyak.

j.      Reaksi tanah terhadap larutan HCl adalah tidak berbuih. Hal ini berarti bahwa tanah ini tidak memiliki kandungan kapur.

k.    Reaksi tanah terhadap larutan aa atau a dipyridien adalah tidak berbuih. Hal ini berarti bahwa tanah ini tidak memiliki bercak atau glei maka mengindikasikan bahwa drainase di daerah ini baik.

B.  Lapisan II

a.    Adalah horison E, yang telah mengalami pencucian (elluviasi).

b.    Kedalaman lapisan II ini antara 20-35 cm.

c.    Batas kejelasan horisonnya adalah berangsur (gradual), dengan bentuk topografi batas perlapisan berombak (weavy).

d.   Warna tanah pada lapisan II ini 10 YR 5/6 dengan warna kuning kecoklatan (yellowish brown) yang didapat dari pencocokan dengan buku Munsell.

e.    Tekstur tanah pada lapisan ini adalah lempung berdebu (clay silt).

f.     Derajat struktur tanah pada lapisan ini kuat sedangkan tipe strukturnya adalah gumpal bersudut (angular blocky).

g.    Konsistensi pada lapisan ini dapat dibagi ke dalam 2 keadaan, yaitu :

S Dalam keadaan basah : lekat (sticky), artinya tanah tertinggal pada kedua kari tangan.

S Dalam keadaan lembap : teguh, artinya dengan ditekan tanpa tenaga yang kuat pecah menjadi agregat yang lebih kecil, masa tanah menggumpal.

h.    pH tanah pada lapisan ini adalah :

S Dengan pH meter diperoleh pH potensialnya 4,5

S Dengan H2O diperoleh pH aktualnya 4,5

i.      Reaksi dengan H2O2 berbuih banyak berarti terdapat kandungan bahan organik yang banyak.

j.      Reaksi terhadap HCl berbuih sedikit berarti terdapat kandungan kapur sedikit.

k.    Reaksi terhadap a dipiridin tidak ada berarti drainase baik dan tidak mengandung bercak (glei).

C.  Lapisan III

a.       Adalah horison B, dimana saat membelah tanah lapisan ini, tanah akan tampak mengkilat seperti kaca akibat terjadi gesekan.

b.      Kedalaman lapisan III ini antara 35 – 48 cm.

c.       Batas kejelasan pada lapisan III adalah berangsur (gradual) dengan bentuk batas perubahan lapisan berombak (weavy).

d.      Tekstur tanah pada lapisan ini adalah lempung berdebu (clay silt).

e.       Derajat struktur tanahnya kuat, yang artinya bentuk agregat sangat jelas dan satu sama lain mudah dipisahkan. Sedangkan tipe strukturnya adalah gumpal bersudut (angular blocky).

f.       Warna tanah pada lapisan ini adalah 7,5 YR 4/4 berwarna coklat (brown).

g.      Konsistensi pada lapisan tanah ini dapat dibedakan ke dalam 2 keadaan, yaitu :

S Dalam keadaan basah : lekat (sticky), dimana tanah tertinggal pada kedua jari tangan.

S Dalam keadaan lembap : teguh, artinya dengan ditekan tanpa tena-ga yang cukup kuat pecah menjadi agregat yang lebih kecil, masa tanah menggumpal.

h.      pH pada lapisan ini adalah :

S Dengan pH meter diperoleh pH potensial 4,5

S Dengan H2O diperoleh pH aktual 5,5

i.        Reaksi kimia pada lapisan ini adalah :

S Reaksi dengan H2O2 berbuih sedikit berarti terdapat kandungan bahan organik sedikit.

S Reaksi terhadap HCl tidak berbuih berarti tidak terdapat kandungan kapur.

S Reaksi terhadap a dipiridin tidak berbuih berarti tidak ada bercak (glei).

D.  Lapisan IV

a.    Merupakan horison B/C, sebagai horison peralihan antara horison B dengan horison C, dengan volume (luas dan ketebalan) yang paling besar adalah horison B.

b.    Kedalaman lapisan tanahnya > 48 cm.

c.    Warna tanah pada lapisan tanah ini adalah 10 YR 4/6 dengan warna coklat (brown) yang didapat dari pencocokan dari buku Munsell.

d.   Tekstur tanah pada lapisan ini adalah lempung berdebu (clay silt).

e.    Derajat struktur tanah pada lapisan ini adalah kuat, dan tipe struktur-nya gumpal bersudut (angular blocky).

f.     Konsistensi tanah pada lapisan ini dapat dibedakan ke dalam 2 keadaan, yaitu :

S Dalam keadaan basah : lekat (sticky), artinya tanah tertinggal pada kedua ujung jari.

S Dalam keadaan lembap : teguh, artinya dengan ditekan tanpa tenaga kuat akan pecah menjadi agregat yang lebih kecil, massa tanah menggumpal.

g.    pH tanah pada lapisan ini adalah :

S Dengan H2O, diperoleh pH aktual 5

S Dengan pH meter, diperoleh pH potensial 4,5

h.    Reaksi kimia pada lapisan ini adalah :

S Reaksi terhadap H2O2 berbuih sedikit berarti mengandung bahan organik sedikit.

S Reaksi terhadap HCl berbuh berarti mengandung kapur.

S Reaksi terhadap a dipiridin tidak ada berarti tidak mengandung bercak.

E.   Lapisan V

Adalah lapisan R, yang berupa batuan induk yang selanjutnya tidak dibahas karena hanya merupakan batuan induk saja.

Kemudian dapat digambarkan mengenai perlapisan profil tanah pada titik pengamatan II, sebagai berikut :

                       0 cm

                                                                             Horison A

                            20 cm

                                                                              Horison E

 

                            35 cm

                                                                             

      Horison B

 

                         > 48 cm

 

                                                                               Horison B / C

 

                        

                                                                                Horison R

 

 

                            Gambar 6. gambar titik profil tanah II

Berdasarkan ciri-ciri yang telah dikemukakan di atas, maka jenis tanah pada titik pengamatan profil tanah II adalah grumusol.

Gambar 7. Foto profil tanah titik pengamatan profil tanah II  saat dilakukan pengukuran horison.

 

Gambar 8. Foto Profil Tanah Titik Pengamatan II

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Titik Pengamatan Profil Tanah III / No. Lapangan : 3 / I / KL 1

            Letak pengamatan dan pengambilan sample pada profil tanah III berada pada daerah dataran tepatnya di daerah persawahan, dengan ketinggian 139 meter dari permukaan air laut. Secara astronomis terletak pada 07o46”13,7” S dan 110o39”29,2” E.

                  Berdasarkan pengamatan, cuaca disekitar daerah penelitian mendung sedangkan pada hari sebelumnya hujan. Iklim dan curah hujan yang ada sama dengan titik pengamatan profil tanah I dan II.

            Bentuk lahan pada titik pengamatan profil tanah III ini berupa daerah dataran tepatnya persawahan, yang tanahnya berasal dari hasil sedimentasi transportasi (residual) dan termasuk dalam formasi geologi peralihan Perbukitan Pendul dan Perbukitan Batur Agung. Bentuklahan spesifik yang ada di tempat ini adalah cat clay, yang merupakan batas lapisan impermeable tanah atau biasa disebut sebagai selaput lempung.

            Jenis vegetasi yang tampak pada daerah penelitian, bukan merupakan vegetasi asli, karena berasal dari hasil budidaya oleh penduduk sekitar. Secara dominan, vegetasi yang ada adalah kacang tanah, ketela pohon, padi dan kedelai, sedangkan secara spesifik tidak ada tetapi ada tanaman lain yaitu kelapa. Pada daerah penelitian titik penganmatan III ini telah terjadi proses sedimentasi.Keadaan air tanahnya kurang baik, dibuk-tikan dengan jarang adanya sumur di sekitarnya dan jika ada kedalaman-nya mencapai 30 meter.

            Berikut diskripsi morfologi profil tanah pada titik pengamatan III.

A.  Lapisan I

a.    Adalah horison Ap, yaitu merupakan horison yang terbentuk karena pengolahan lahan oleh penduduk sekitar oleh karena daerah penelitian merupakan daerah persawahan yang berupa sawah tadah hujan.

b.    Kedalaman lapisan ini antara 0 – 26 cm.

c.    Untuk warna tanah pada lapisan ini adalah 10 YR 4/4 berwarna coklat (brown) yang didapat dari pencocokan dengan buku Munsell.

d.   Batas kejelasan horisonnya adalah jelas (clear) dengan bentuk topografi perbatasan perlapisan relatif rata (smooth).

e.    Tekstur pada lapisan ini mengandung fraksi lempung berdebu (clay silt).

f.     Derajat struktur tanahnya kuat, artinya bentuk agregat sangat jelas dan satu sama lain mudah dipisahkan. Sedangkan tipe struktur tanahnya membentuk gumpal bersudut (angular blocky).

g.    Konsistensi pada lapisan ini dapat dibedakan ke dalam 2 keadaan, yaitu :

§  Dalam keadaan basah : termasuk lekat (sticky), artinya tanah tertinggal pada kedua jari.

§  Dalam keadaan lembap : termasuk teguh, artinya masa tanah menggumpal, dengan ditekan tanpa tenaga yang kuat tanah akan pecah menjadi agregat yang lebih kecil.

h.    pH pada lapisan tanah ini diperoleh dengan beberapa cara, yaitu :

§  Dengan H2O, diperoleh pH aktual 5,5

§  Dengan pH meter, diperoleh pH potensial 6,6

i.      Reaksi kimia pada lapisan ini :

§  Reaksi terhadap H­2O2 berbuih banyak berarti banyak mengandung bahan organik.

§  Reaksi terhadap HCl tidak berbuih berarti tidak mengandung kapur.

§  Reaksi terhadap a dipiridin tidak berbuih berarti tidak mengan-dung bercak.

B.  Lapisan II

a.    Adalah horison E, yang telah mengalami pencucian (elluviasi) maksimal dari unsure hara, partikel lempung dan bahan organik dengan ciri warna lebih terang daripada horison lainnya.

b.    Kedalaman lapisan ini antara 26 – 38 cm.

c.    Warna tanah pada lapisan ini adalah 10 YR 4/3. Hal ini berarti berwarna Dull Yellowish Brown yang didapat berdasarkan pada buku Munsell.

d.   Batas kejelasan horisonnya adalah berangsur (gradual), dengan bentuk topografi batas perlapisan relatif rata (smooth).

e.    Derajat struktur tanah pada lapisan ini kuat, artinya bentuk agregat sangat jelas dan satu sama lain mudah dipisahkan. Sedangkan tipe strukturnya adalah gumpal bersudut (angular blocky).

f.     Tekstur pada lapisan ini mengandung fraksi lempung berdebu (clay silt).

g.    pH pada lapisan tanah ini diperoleh dengan beberapa cara, yaitu :

§  Dengan H2O, diperoleh pH aktual 6

§  Dengan pH meter, diperoleh pH potensial 6,6

h.    Konsistensi tanah pada lapisan ini dapat dibedakan menjadi 2 keadaan, yaitu :

§  Dalam keadaan basah : termasuk lekat (sticky), artinya tanah tertinggal pada kedua jari.

§  Dalam keadaan lembap : termasuk teguh, masa tanah menggum-pal, dengan ditekan tanpa tenaga yang kuat tanah akan pecah menjadi agregat yang lebih kecil.

i.      Reaksi kimia pada lapisan ini :

§  Reaksi terhadap H2O2 berbuih banyak berarti banyak mengandung bahan organik.

§  Reaksi terhadap HCl tidak berbuih berarti tidak mengandung kapur.

§  Reaksi terhadap a dipiridin tidak berbuih berarti tidak mengandung bercak (glei).

 

 

 

C.  Lapisan III

a.    Adalah horison B, yang merupakan tempat pengendapan (illuviasi) unsure hara, partikel lempung dan bahan organic dari tanah atasan ke tanah bawahan dan juga telah mengalami perkembangan.

b.    Kedalaman lapisan ini antara 38 – 64 cm.

c.    Batas kejelasan lapisan ini adalah baur (diffuse), artinya lebar perali-han >12 cm, dengan bentuk batas perubahan perlapisan bergelom-bang (weavy).

d.   Warna tanah pada lapisan ini adalah 10 YR 3/3. Hal ini berarti berwarna Dark Brown atau coklat tua yang didapat berdasarkan pada buku Munsell.

e.    Tekstur tanah pada lapisan ini dominan lempung berdebu (clay silt).

f.     Derajat struktur tanahnya adalah kuat, artinya bentuk agregat sangat jelas dan satu sama lain mudah dipisahkan. Sedangkan tipe struktur-nya adalah gumpal bersudut (angular blocky).

g.    pH pada lapisan tanah ini diperoleh dengan beberapa cara, yaitu :

§  Dengan H2O, diperoleh pH aktual 6

§  Dengan pH meter, diperoleh pH potensial 6,6

h.    Konsistensi pada lapisan ini dapat dibedakan dalam 2 keadaan, yaitu

§  dalam keadaan basah : termasuk lekat (sticky), artinya tanah tertinggal pada kedua jari.

§  Dalam keadaan lembap : termasuk teguh, artinya masa tanah menggumpal, dengan ditekan tanpa tenaga yang kuat tanah akan pecah menjadi agregat yang lebih kecil.

i.       Reaksi kimia terhadap lapisan tanah ini :

§  Reaksi terhadap H2O2 berbuih sedikit berarti sedikit mengandung bahan organik.

§  Reaksi terhadap HCl tidak berbuih berarti tidak mengandung kapur.

§  Reaksi terhadap a dipiridin tidak berbuih berarti tidak mengan-dung bercak (glei).

D.  Lapisan IV

a.    Merupakan horison B/C, sebagai horison peralihan antara horison B dengan horison C dengan volume (luas dan ketebalan) yang paling besar adalah horison B.

b.    Kedalaman lapisan tanahnya antara 64 – 84 cm.

c.    Warna tanah pada lapisan ini adalah 10 YR 4/4. Hal ini berarti berwarna Brown atau coklat yang didapat berdasarkan pada buku Munsell.

d.   Batas kejelasan pada lapisan ini adalah baur (diffuse), dengan bentuk topografi batas perlapisannya berombak (weavy).

e.    Tekstur tanah pada lapisan ini adalah dominan lempung berdebu (clay silk).

f.     Derajat struktur tanah pada lapisan ini adalah kuat, artinya bentuk agregat sangat jelas dan satu sama lain mudah dipisahkan. Dan tipe strukturnya gumpal bersudut (angular blocky).

g.    Konsistensi lapisan ini dapat dibedakan dalam 2 keadaan, yaitu :

§  Dalam keadaan basah : termasuk lekat (sticky), artinya tanah tertinggal pada kedua jari.

§  Dalam keadaan lembap : termasuk teguh, artinya masa tanah menggumpal, dengan ditekan tanpa tenaga yang kuat tanah akan pecah menjadi agregat yang lebih kecil.

h.    Reaksi terhadap H2O2 berbuih sedikit berarti sedikit mengandung bahan organik.

i.      Reaksi terhadap HCl tidak berbuih berarti tidak mengandung kapur.

j.      Reaksi terhadap a dipiridit tidak berbuih berarti tidak mengandung bercak atau glei.

Kemudian dapat digambarkan mengenai perlapisan pada titik pengamatan profil tanah III sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 


                                  0 cm

 

                                                                                   Horison Ap

                              

                               26 cm

                                                                                   Horison E

 

                                38 cm

 

 

                                                                                    Horison B

 

 

                              > 64 cm

                                                                                    Horison B / C

 

                             Gambar 9. Gambar titik profil tanah III

 

Berdasarkan ciri-ciri yang telah diuraikan di atas, maka tanah di titik profil III termasuk jenis tanah Grumusol.

 

 

                                         Gambar 10. Foto titik profil tanah III

 

 

                        Gambar 11. Foto jenis vegetasi pada titik profil tanah III

 

 

 

 

 

 


                   Profil tanah I

 

 

 

 

                                                   Profil tanah II

 

 

 

                                                                                                       Profil tanah III

 

Gambar 12. Gambaran umum ketiga profil dilihat dari samping.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

                                                         PENUTUP

A.    Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya pada latar belakang penulisan. Dari rumusan tersebut, akan diketahui potensi-potensi di daerah penelitian.

a.       faktor pembentuk tanah di daerah penelitian

Tanah di daerah penelitian dibentuk oleh 5 faktor dimana kelima faktor tersebut, meliputi :

1). Relief / topografi

Relief/topografi merupakan faktor pembentuk tanah yang berkaitan dengan drainase atau tingkat pengatusan, erosi, banjir, dan lain-lain yang ada hubungannya dengan kelerengan.

2). Bahan Induk

Di daerah penelitian bahan induk yang dominan berpengaruh pada pembentukan tanah adalah bahan induk dari proses residual, dimana tanah yang terbentuk dominan sama setiap struktur, tekstur dan susunan kimianya.

3). waktu

Waktu tanah ditentukan oleh perkembangan susunan horison tanah, semakin sempurna susunan horison tanahnya maka umur tanah tersebut dikatakan tua sebaliknya susunan horison tanah yang terdiri dari tidak lebih dari dua horison dikatakan masih muda meskipun kedua tanah di atas menempuh waktu pembentukan yang sama. Jadi umur tanah tidak ditentukan oleh lamanya tanah itu terbentuk melainkan dari jumlah susunan horison tanah.

4). Organisme

Organisme merupakan salah satu faktor pembentuk tanah, dalam hdal ini, khususnya adalah vegetasi. Vegetasi mempengaruhi tingkat kesuburan tanah.

§  Akar vegetasi : akar vegetasi dapat menembus tanah dan batuan yang digunakan untuk mencari sumber air, mengakibatkan tanah lembap. Sedangkan tanah yang tidak ditumbuhi vegetasi cenderung kering dan gersang.

§  Akar vegetasi juga berperan mengikat unsur N yang merupakan salah satu unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanah. Sehingga mempengaruhi tingkat kesuburan tanah.

Di daerah penelitian tidak banyak ditemukan perakaran vegetasi khususnya pada stop site I, sumber air juga tidak ada terbukti dari tidak adanya sumur di daerah pengamatan (stop site I). Pada stop site II jenis vegetasi berakar tunggang, jenis akar ini sangat baik dalam membantu proses pembentukan tanah karena sifatnya yang mampu meng-hancurkan batuan keras dan mampu mencari air dan mengikat Nitrogen. Sedangkan pada stop site III telah ditemukan berbagai jenis vegetasi dengan jenis akar tunggang maupun serabut, sehingga perakaran yang relatif banyak ini akan mempercepat pembentukan tanah.

5). Iklim

Unsur iklim yang dominan yang mempengaruhi pembentukan tanah di daerah penelitian adalah :

-       Temperatur : berkaitan dengan proses pelapukan fisika yang mempengaruhi    perubahan batuan induk tanah.

-       Curah hujan : berkaitan dengan proses pelapukan fisika, sedimentasi, erosi, dan drainase.

 

b.      Sifat dan Karakteristik Tanah di Daerah Penelitian

Di daerah penelitian dilakukan pembuatan profil tanah pada tiga lokasi yang berbeda. Dihasilkan sifat dan karakteristik tanah yang berbeda pula. Sifat dan karakteristik tanah di masing-masing lokasi telah diuraikan di atas. Sehingga diperoleh kesimpulan bahwa jenis tanah di tiap titik pengamatan adalah berbeda. Jenis tanah beserta karakteristiknya yang didapat adalah sebagai berikut :

1). Lithosol, yaitu tanah dangkal di atas batuan yang keras atau dapat dikatakan tanah mineral dengan tebal < 20 cm. Jenis tanah ini ditemukan pada lokasi penelitian profil tanah I, yang memiliki tingkat erosi sering dan berada pada lereng atas Perbukitan Pendul.

2). Grumusol, berupa tanah lempung yang berat dan berwarna hitam kelabu. Jenis tanah ini ditemukan pada lokasi penelitian profil tanah II dan III, yaitu pada lereng bawah Perbukitan Pendul yang merupakan lokasi penelitian profil tanah II dan pada dataran persawahan yang merupakan lokasi penelitian profil tanah III.

  1. Penelitian dilakukan dengan membuat tiga profil tanah berbeda lokasinya

Pembuatan profil tanah yang dilakukan pada 3 lokasi yang berbeda menghasilkan sifat dan karakteristik yang berbeda pula.

1). Titik pengamatan profil I di lereng atas Perbukitan Pendul.

2).  titik pengamatan profil II di lereng bawah Perbukitan Pendul

3). titik pengamatan profil III di dataran (persawahan).

            Di masing-masing titik tersebut terjadi proses pedogenesis yang berbeda-beda dan dipengaruhi faktor eksogen daerah tersebut, diantaranya pengolahan lahan oleh penduduk sekitar lokasi penelitian.

 

 

  1. Hubungan antara sifat dan karakteristik tanah dengan penggunaan lahan

      Dari adanya perbedaan jenis tanah, maka penggunaan lahan di tiap titik pun akan berbeda.Di titik I dan II lebih cocok digunakan seabagai area hutan dan tegalan, sedangkan di titik III cocok digunakan sebagai area tegalan dan persawahan. Hal ini diperoleh berdasarkan pada pembagian kelas-kelas kemampuan lahan.

      Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, dapat diambil kesimpulan penelitian seabagai berikut :

1.         Wilayah Kecamatan Bayat diklasifikasikan menjadi tiga satuan relief yaitu : datar dengan kemiringan lereng 0-<3%, berombak dengan kemiringan lereng antara 3–15%, bergelombang dengan kemiringan lereng 15 – 30%.

2.         Perkembangan berbeda pada setiap titik penelitian yang dapat dilihat pada jumlah susunan horison tanah yang berbeda pada setiap titik penelitian.

3.         Pembentukan tanah pada daerah penelitian dipengaruhi oleh 5 faktor yang dibagi dalam faktor pasif dan faktor aktif yang keduanya sama-sama berpengaruh.

4.         Penggunaan lahan di daerah penelitian berbeda pada setiap titik penelitian, penggunaan lahan disesuaikan dengan kemampuan lahan yang ada di daerah penelitian.

B.     Saran

      Keberadaan konservasi tanah yang telah diusahakan dicatat sebagai bahan informasi yang diperlukan untuk perencanaan dan implementasi program-program konservasi tanah. Informasi mengenai upaya-upaya konservasi tanah yang ada untuk masing-masing satuan inventarisasi, meliputi : (a) Macam teras, (b) persentase satuan peta yang di teras, (c) persentase dinding teras (riser) dengan berumput permanen, dan (d) Kondisi teras.

Pada daerah pengamatan memiliki konservasi yang jelek artinya daerah tersebut terjadi tingkat perkembangan tanah yang lambat bila dilihat dari segi vegetasi yang ditanam di sekitar daerah penelitian profil tanah I. Maka untuk membantu mempercepat perkembangan tanah seharusnya daerah tersebut ditanami tumbuhan dengan perakaran yang besar.

      Kemudian bila dilihat dari segi destruksionalnya daerah tersebut mempunyai tingkat erosi yang besar, secara garis besar daerah sekitar sudah dibuat sistem terasering, namun air yang keluar dari teras tersebut dialirkan sejajar dengan lereng makro sehingga terjadilah erosi parit yang mempunyai tingkat erosi yang besar (surface run off-nya besar) serta didukung pula oleh penutup lahan yang sedikit.

      Untuk mengatasi masalah tersebut perlu diadakannya konservasi lahan dengan jalan memberikan penyuluhan kepada masyarakat supaya mengolah lahan mereka yang sebelumnya milik perhutani lebih intensif, kaitannya dengan tingkat erosi tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Darmawijaya, Dr. Ir. M. Isa. 1990. Klasifikasi Tanah : Dasar Teori bagi Peneliti Tanah dan Pelaksana Pertanian di Indonesia. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Hardjowigeno, Dr. Ir. Sarwono. 1987. Ilmu Tanah. Bogor : MSP.

____________ . 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Jakarta : Akademika Pressindo.

Jamulya, Tukidal Yunianto, Junun Sartohadi. 1993. Petunjuk Praktikum Survei Tanah. Yogyakarta : Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.

Poerwowidodo. 1990. Genesa Tanah : Proses Genesa dan Morfologi. Jakarta : Rajawali Press.

 

 

 

0 komentar:

Posting Komentar